Ahlul Halli wal Aqdi Lebih Fair Untuk PWNU dan PCNU

Jakarta, NU Online
Konsep Ahlul Halli wal Aqdi dalam menentukan Rais Aam PBNU, merupakan pilihan tepat untuk diterapkan pada muktamar Ke-33 NU dan muktamar selanjutnya. Mekanisme Ahlul Halli mengakomodasi suara bulat pengurus cabang dan wilayah NU dalam menentukan Rais Aam sebagai pemegang amanah tertinggi di lingkungan NU.

Menurut Katib Aam PBNU KH Malik Madani, hak pengurus cabang dan wilayah NU itu justru tidak hilang sama sekali. Karena dalam mekanisme Ahlul Halli, PWNU dan PCNU mengirimkan sembilan nama dewan Ahlul Halli yang diputuskan pengurus lengkap mereka.

“Hak mereka tidak hilang. Setiap PWNU dan PCNU mengirimkan sembilan nama,” kata Kiai Malik dalam rapat pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU, di Jakarta, Rabu (27/5) siang.

Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra manambahkan, mekanisme Ahlul Halli semakin memperkuat hak pengurus wilayah dan cabang secara kolektif. Karena, peserta muktamar utusan wilayah dan cabang akan membawa sembilan nama yang diputuskan pengurus lengkap cabang dan wilayah.

“Nama-nama itu bukan pilihan muktamirin utusan cabang. Kalau muktamirin itu hanya sebagian pengurus cabang, bukan semua pengurus,” kata Bina.

Kita ini di Syuriyah PBNU, kata Kiai Malik, penting untuk meneguhkan khittah NU 1926 dengan model Ahlul Halli. Ini amanah Pleno NU Wonosobo. Dari sana sosialisasi dan susunan mekanismenya kembali dibahas di Munas NU hingga pra muktamar.

“Cara itu sudah betul, lebih fair karena melibatkan pengurus lengkap cabang dan wilayah NU dalam menentukan Rais Aam PBNU ke depan,” tegas Kiai Malik.

Model Ahlul Halli ini, Ketua PBNU Prof DR H Maksum Mahfudz menambahkan, sangat mendasar dan berdasar, juga kuat. Konsep ini sudah didiskusikan di Munas NU, juga sudah diperbincangkan para kiai di forum Bahtsul Masail. Ini sudah sangat ilmiah dan kuat.

“Ini konsep yang sangat matang demi membangun supremasi syuriyah NU di setiap tingkatan,” jelas Maksum.

Pleno PBNU 2013 lalu sudah mengamanahkan pemberlakuan Ahlul Halli di Mutamar mendatang. Forum ini menyerahkan PBNU untuk menyusun mekanismenya, kata Ketua panitia Muktamar Ke-33 NU H Slamet Effendi Yusuf.

“Ahlul Halli wal Aqdi ini sangat fundamental dalam memosisikan NU sebagai organisasi para kiai. Kita menginginkan Rais yang wiro’i dan berwibawa. Hak PWNU dan PCNU dilindungi di sini. Karena nama-nama yang diusulkan merupakan keputusan pengurus harian lengkap PWNU dan PCNU, bukan pilihan dadakan oknum utusan PWNU dan PCNU di sidang Muktamar,” ujar Slamet.

Sementara Wasekjen PBNU H Imdad yang turut hadir rapat menyampaikan amanah KH Saifuddin Amsir yang pamit meninggalkan rapat lebih awal untuk berobat.

“Soal Ahlul Halli ini harus dituntaskan di Munas mendatang. Kiai Saifuddin percaya persoalan Ahlul Halli akan jernih kalau pembahasnya ialah pengurus syuriyah PWNU se-Indonesia,” kata Imdad memnyampaikan amanah Kiai Saifuddin Amsir.

Munas NU akan diselenggarakan di Jakarta pada Ahad-Senin, 14-15 Juni 2015. Pada forum ini, para peserta akan mengadakan simulasi pemilihan Rais Aam PBNU lewat mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi. (Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: