Alumni PMII Ini Rintis MTs Pertama di Desa Toblongan

Tasikmalaya, Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tasikmalaya Eris Zam Zam Noor berkiprah di masyarakat dalam bidang pendidikan dengan merintis pendirian sekolah dan memajukan pesantren di Kampung Datarpetir Desa Toblongan Bojongasih Tasikmalaya, Jawa Barat.

Sekolah yang ia rintis bernama Madrasah Tsanawiyah Tholabul Hidayah didirikan 9 Juni 2013. MTs ini adalah MTs pertama dalam sejarah Desa Toblongan. MTs ini berada dibawah naungan Yayasan Pesantren Tholabul Hidayah. Sebuah Pesantren yang didirikan pada 9 Juni 1922 oleh Ajengan Ahmad Syaepudin  yang merupakan santri dari KH Zainal Musthafa Sukamanah, dan ia juga adalah salah seorang santri yang ikut bertempur pada masa penjajahan Jepang bersama KH Zainal Musthafa  dan Wafat  pada 1 Syawal 1433 H.

Eris Berkiprah di PMII Sebagai Anggota Kemudian Menjadi  Sekretaris Komisariat PMII Institut Agama Islam Cipasung Pada Tahun 2008 – 2011. Saat ditemui di Kediamannya Di Kampung Datarpetir Toblongan Bojongasih,  Tasikmalaya Kamis (24/09).  Eris menuturkan bahwa Madrasah ini didirikan Karena Sekolah dengan Jenjang yang Sama Sulit dijangkau oleh Masyarakat, Karena akses yang Jauh, apalagi Mayoritas Masyarakat disini Petani.

“Madrasah ini juga untuk memajukan pesantren yang didirikan kakek saya yang kian hari dan kian lama susah berkembang karena tidak adanya pendidikan formal, dan  masyarakat sekarang  cenderung mengutamakan pendidikan formal, dan usia SLTP disini banyak  meninggalkan desa Untuk bekerja di luar kota atau sebagian sekolah di luar desa sehingga pesantrenpun susah berkembang, untuk mengimbangi itu harapan saya dengan MTs ini Pendidikan Masyarakat bisa meningkat dan memajukan Pesantren Tholabul Hidayah,” papar Eris.

Madrasah ini, lanjutnya, memiliki visi Melahirkan peserta didik yang yang cerdas, berkarakter keislaman, kebangsaan serta berwawasan budaya. Oleh karena itu ke-NU-an dan ke-Aswaja-an menjadi mata pelajaran di MTs ini agar siswa paham nilai dari Islam, Indonesia dan hubungan budaya dengan fikih sejak dini.

Pemuda 26 tahun itu melanjutkan, Madarasah ini dibiayai dengan swadaya karena belum menerima Bantuan Oprasional Sekolah (BOS). Karena itu, dirinya selalu memberikan semangat  kepada para pengajar bahwa mendidik adalah tugas besar yang diemban secara terhormat oleh orang-orang terhormat dan kita disini membangun bangsa bersama sama dengan mendidik. (Husni Mubarok/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: