Aset Wakaf Indonesia Kalah Jauh Dibanding Singapura

Jakarta, Aset wakaf yang dikelola oleh nazhir -nazhir di Indonesia belum bisa dibandingkan dengan aset yang dimiliki oleh umat Islam di negara tetangga seperti Singapura. Padahal jumlah umat Islam di Indonesia adalah yang terbesar di dunia.

Demikian disampaikan oleh Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) H. Maftuh Basyuni dalam kegiatan Konsolidasi Nazhir Wakaf Uang dan Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) di Jakarta, Jum’at -Ahad (6-8/11) kemarin.

“Sejauh data yang ada di BWI, aset wakaf nazhir-nazhir yang ada di Indonesia belum bisa dibandingkan dengan aset wakaf Al-Azhar, Kairo; Warees, Singapura; Sharjah, Uni Emirat Arab; maupun KAPF (Kuwait Awqaf Public Foundation), Kuwait. Mungkin ini bisa menjadi pemacu semangat para nazhir untuk bisa lebih besar, menasional, atau bahkan go international,” kata Maftuh Basyuni.

Kegiatan konsoidasi dihadiri oleh lebih dari 50 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia. Mereka antara lain berasal dari utusan Wakaf Al-Azhar, Lembaga Wakaf NU, Tabung Wakaf Indonesia, Koperasi Jasa Keuangan Syariah Beringharjo (Yogyakarta), Baitul Maal wat Tamwil Al Fataya (Sumatera Barat), KJKS BMT An-Najah (Jawa Tengah), Bank DKI Syariah, Bank BNI Syariah, Kementerian Koperasi, dan Yayasan Daarut Tauhiid (Bandung).

Maftuh Basyuni mengingatkan, tugas nazhir adalah mengelola dan mengembangkan harta wakaf sehingga menghasilkan manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat. Karena itu, nazhir haruslah orang-orang yang cerdas dan kreatif dalam bisnis.

“Upaya memajukan dan memproduktifkan wakaf tidak bisa tidak harus dimulai dari penguatan kapasitas nazhir. Tanpa kehadiran nazhir yang berkualitas, harta wakaf hanya akan menjadi aset abadi yang beku dan minim manfaat,” katanya.

Selain konsolidasi antara para nazhir dan LKS-PWU, kegiatan dihadiri beberapa narasumber dari kalangan praktisi wakaf uang dan bank syariah, serta pebisnis dan motivator.

Dalam konsolidasi itu antara lain diungkap keberhasilan Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) melalui sayap bisnis properti, Warees Investment. Warees adalah singkatan dari Wakaf Real Estate. MUIS memiliki ratusan aset properti dengan total nilai lebih dari Rp 7,5 triliun.

Disampaikan, potensi wakaf di Indonesia cukup besar, terutama dari wakaf uang. Di Indonesia, wakaf uang terbesar berhasil dikumpulkan oleh Dompet Dhuafa,  Emotional Spiritual Quotient (ESQ) serta wakaf yang dihimpun oleh Yusuf Mansyur.

Kegiatan konsolidasi itu dilaksanakan dalam rangka peningkatan penghimpunan dan pengelolaan wakaf uang di Indonesia. BWI menginginkan pelaksanaan wakaf uang berjalan semakin baik dan semarak.

BWI mengundang nazir-nazir wakaf uang yang sudah terdaftar dan bank-bank LKS-PWU untuk mendorong peningkatan kualitas penyelenggaraan wakaf uang. Selain dalam rangka pembinaan, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi saling berbagi pengalaman di antara nazir dan LKS-PWU, serta sistem pelaporan dan akuntansi wakaf uang.

Kegiatan konsolidasi menghasilkan beberapa rekomendasi, antara lain BWI bekerja sama dengan BI, OJK, dan lembaga terkait lainnya mengkaji lebih jauh kemungkinan penggunaan harta wakaf sebagai cash collateral di perbankan. Direkomendasikan juga BWI membuat standar kompetensi nazhir dan klasifikasi nazhir berdasarkan keahlian dalam mengelola wakaf.  (Red: Anam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: