Awal Ramadhan, Jamaah Masjid Gus Dur Tarawih 1 Juz

Jakarta, NU Online
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Masjid Al-Munawwaroh jalan Warung Sila nomor 10 Jagakarsa, Jakarta Selatan, menyelenggarakan sholat Tarawih 20 rakaat dengan 1 juz. Begitu pula Tarawih pada Ramadhan 1436 H yang dimulai Rabu (17/6) malam.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Munawwaroh H Syaifullah Amin mengatakan, tradisi tarawih 1 juz ini memasuki tahun ketujuh. “Sejak pengasuh Pesantren Ciganjur KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih hidup, tarawih 1 juz ini telah dimulai. Tepatnya mulai Ramadhan 2009,” tuturnya.

Tradisi tarawih 1 juz ini, lanjut Amin, berawal dari cerita Gus Dur kepada Pemangku Pesantren Ciganjur KH Muhammad Musthofa. Gus Dur menceritakan, ketika Mbah Hasyim mengimami sholat tarawih di masjid Pesantren Tebuireng selalu membawa mushaf Al-Quran kecil.

“Jadi, Bapak (sapaan Kiai Musthofa kepada Gus Dur-red) ingin di sini (Pesantren Ciganjur) meniru kebiasaan Mbah Hasyim yang tarawih pakai 1 juz. Padahal Mbah Hasyim nggak hafal Quran. Ini pertanda kecintaan beliau kepada Quran,” ungkap Amin mengulang cerita dari Kiai Musthofa.

Menurut Wakil Sekretaris LDNU ini, tarawih 1 juz tidak hanya diikuti para jamaah sekitar masjid Gus Dur. Namun, juga berasal dari luar Ciganjur. Bahkan, ada yang dari luar kota. Mereka sengaja mengajak anak istrinya mengikuti jamaah isya sekaligus tarawih 1 juz.

“Ini menarik. Sebab, ternyata banyak orang yang ingin khusyuk sholatnya. Kalau di luar sana kan cepat sekali tarawihnya. Nah, di sini orang bisa santai sambil menyimak Quran itu. Secara nggak langsung, ini menjadi cara dakwah yang unik,” ujar Amin bangga.

Pantauan NU Online, para jamaah memenuhi Masjid Gus Dur hingga meluber ke teras yang berbatasan langsung dengan kediaman Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid. Kendaraan roda dua tampak berjajar rapi di halaman masjid, begitu juga kendaraan roda empat parkir di depan gedung Yayasan KH A Wahid Hasyim.

Setelah Tarawih dan Witir, Imam Besar Masjid Gus Dur Kiai Ahmad Ahsin memimpin selametan menyambut datangnya bulan puasa. Usai dibacakan doa, para jamaah menikmati nasi di nampan ukuran besar (tampah-Jawa) plus lauk-pauk khas Nusantara. “Ini juga bagian dari tradisi yang sudah lama dilakukan di masjid ini,” ujar Kiai Ahsin. (Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: