Ayah dan Anak Terbitkan “Gus Dur Manusia Multidimensional”

Jepara,
Agustus lalu, buku berjudul “Gus Dur Manusia Multidimensional” diterbitkan Deepublish (Grup Penerbit CV Budi Utama) Agustus 2015. Buku itu ditulis dua orang, yaitu Maswan dan Aida Farichatul Laila. Maswan yang berprofesi sebagai dosen adalah ayah dari Aida, mahasiswi Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara.

Proses penerbitan buku setebal 267 halaman ini memakan waktu lima tahun. Inspirasi awalnya saat KH Abdurrahman Wahid (Gus DUr) wafat 30 Desember 2009. Dua penulis tersebut kemudian mengumpulkan tulisan berbentuk opini, berita dari berbagai media. Diambil juga data dari e-paper, majalah, website, blog, dan facebook.

Dari puluhan dan bahkan ratusan judul tulisan mengenai Gus Dur, akhirnya penyusun memilah dan memilih mana yang paling tepat untuk dimasukkan dalam buku tersebut.

“Ya, memang ada unsur subjektivitas dalam penyusunan buku ini. Penyusun sengaja tidak memasukkan tulisan yang menjelek-jelekkan Gus Dur,” kata Maswan, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Unisnu Jepara, Jawa Tengah, Jumat (11/9).

Dipilihnya judul “Gus Dur Manusia Multidimensional” karena isinya memuat tentang pendapat para tokoh tentang Gus Dur dari berbagai dimensi.

Gus Dur di mata tokoh adalah manusia yang mempunyai banyak dimensi. “Beliau (Gus Dur) adalah kiai, politisi, negarawan, seniman dan budayawan, guru bangsa, tokoh pluralis, wali dan segudang julukan lainnya,” kata lelaki kelahiran Jepara, 21 April 1960 ini.

Menurut dia, Gus Dur sering berkata dan bertindak kontroversial yang membingungkan banyak kalangan sehingga kritik tajam banyak menyerangnya. Namun, menurutnya, Gus Dur tidak pernah tampak dendam dan sentimen.

Dengan wataknya yang tidak pendendam dan didukung dengan jiwa pembela yang benar, maka oleh siapa saja Gus Dur sangat dihormati dan diterima dari berbagai kalangan.

Aida berharap buku ini menjadi catatan bagi generasi yang akan datang. “Bahwa di Indonesia ada sosok manusia yang patut untuk dijadikan rujukan dalam hal pemikiran-pemikirannya, gagasan-gagasannya, ide-idenya dan keberaniannya untuk menentang setiap hal yang merugikan manusia lain.

Menurut dia, Gus Dur adalah tokoh nasional sebagai guru bangsa, ulama moderat dan toleran yang mau secara tulus membantu orang-orang yang lemah dan teraniaya.

Kader-kader NU di Indonesia, lanjut dia, harus mencontoh Gus Dur. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)