Bagi Aktivis Dakwah di Papua, Nama Gus Dur adalah Kunci

Pemalang, NU Online
Kiprah dan jasa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selama hidup masih membekas di hati masyarakat Papua. Tak heran bila ada semacam keseganan ketika nama Gus Dur disebut di sana.

“Bagi kami aktivis dakwah di Papua , nama Gusdur adalah sebuah kunci,” tutur Abdul Hamid, aktivis NU di Papua, saat menjadi pembicara pada bedah novel “Mata Penakluk, Manakib Abdurahman Wahid” di  GOR Mahardika Desa Cikasur, Kecamatan Belik, Kabupten Pemalang,  Jawa Tengah, Ahad (27/09/15).

Abdu, sapaan akrabnya, menceritakan tentang sebuah kisah yang terjadi pada bulan Desember 2012 . Saat itu Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengadakan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) di Jayapura. Kegiatan tersebut, menurut Abdu, diikuti tak kurang oleh 500 kader PMII. Kala itu keamanan di Jayapura yang merupakan daerah ‘merah’ cukup mencekam karena menjadi salah satu basis OPM (Organisasi Papua Merdeka).

Menurutnya, dalam acara berskala nasional itulah kebesaran nama KH Abdurrahman Wahid  kembali terbukti. Ia menjadi kunci suksesnya perhelatan akbar waktu  itu. Tanpa membawa nama Gus Dur,  kegiatan yang dihelat sepekan itu memang menuai banyak tentangan. Apalagi kegiatan diikuti ratusan pemuda dari luar Papua.

“Alhamdulillah berkah Gus Dur acara bisa diselenggarakan Papua dengan aman,” ujar Abdu.

Tak hanya aman, tambah Abdu, salah satu budayawan di Papua, bernama Engel, bahkan dengan suka rela mengkoordinasi anak-anak adat binaanya untuk menampilkan  sejumlah tarian adat dalam Festival Budaya dalam salah satu agenda Muspimnas PMII, yang digelar selama sepekan.

“Menurut Engel,  para tokoh adat di Sentani juga turut mengerahkan pasukannya untuk mengamankan kegiatan PMII yang dihelat di Hotel Sentani, Jayapura. ‘Kalian cukup berani mengadakan kegiatan di sini. Kalau saja kalian bukan anak-anak Gus Dur, mungkin kami juga pikir-pikir untuk terlibat’,” tutur Abdul Wahab menirukan tokoh Papua itu.

Abdul Wahab mengungkapkan, selama kegiatan itu berlangsung, sampai anggota OPM juga ikut menjaga acara akbar yang diselenggarakan oleh PMII itu.

Acara bedah novel karya Abdullah Wong tersebut digelar Komunitas Gusdurian Gunung Selamet. Selain sang penulis, hadir pula antara lain Eko Wahyudi (Ketua UKM Sugih Bareng),  Haris Burhani MAP dari Puslitbang Kehidupan Keberagamaan Kemenag RI, Gus Yusuf (budayawan Purwokerto), dan H Shaleh, Kordinator Gusdurian Tegal yang juga memimpin jalannya diskusi sebagai moderator. (Red: Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: