Beginilah Lika-Liku Pencarian Jenazah Korban Mina

Makkah, NU Online
Memberi perlindungan kepada jemaah haji menjadi tugas Letkol Jaetul Muchlis (47 tahun) sebagai Kepala Seksi Perlindungan Jemaah (Linjam) Petugas Haji Indonesia Daerah Kerja Makkah. Dirinya memang beberapa kali dipercaya untuk menempati pos itu. Mencari jemaah yang hilang adalah rangkaian tugas yang sudah terbayang dalam benak Muchlis sejak awal.

Meski demikian, pria kelahiran Cianjur 1968 ini mengaku tidak pernah membayangkan kalau akan mendapat tugas sebagai ketua tim identifikasi jenazah pada peristiwa Mina yang menelan ribuan korban, termasuk lebih dari 100 orang jemaah haji Indonesia. Pantang menolak amanah yang sudah diberikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Jaetul Muchlis bersama 3 anggota lainnya langsung bergerak, mengidentifikasi jenazah jemaah haji Indonesia yang disimpan di tempat Pemulasaraan Jenazah di Muaishim.

“Tentu tidak segampang yang dipikirkan. Setiap saat bisa berubah. Saya melihat di sini, ketentuan penanganan emergency seperti ini belum ada protap yang jelas. Sehingga, ketika hari ini kita diperlakukan model A, besok mungkin berubah cara mereka memperlakukan kita. Setiap orang tidak memiliki standar pelayanan yang jelas.” Demikian sekelumit gambaran Muchlis, tentang betapa susahnya mengemban tugas menemukan jenazah jemaah haji Indonesia yang menjadi korban peristiwa Mina, Senin (05/10) lalu seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Kamis (24/09), hari itu langit cerah dan cenderung panas. Sementara di Tanah Air sedang merayakan Idul Adha, jemaah haji di seluruh dunia, termasuk Indonesia, pagi itu mulai tiba di Mina setelah menginap (mabit) di Muzdalifah. Semua berjalan lancar sampai sekitar pukul 09.00 waktu Arab Saudi, terjadi peristiwa jemaah haji berdesakan di Jalan Arab Nomor 204, Mina. Ribuan korban jemaah haji meninggal, termasuk lebih dari 100 jemaah haji Indonesia.

Tidak lama setelah kejadian, Menteri Agama selaku Amirul Haj membentuk 3 tim yang bergerak secara paralel. Tim pertama bertugas mendata ulang jemaah yang belum kembali ke rombongan. Tim Kedua, mencari jejak korban di rumah sakit Arab Saudi. Tim ketiga bertugas mengidentifkasi jenazah. “Kami di Tim ini mempunyai spesifikasi khusus. Kami ditugasi untuk lebih awal mengetahui berapa sebenarnya korban yang dinyatakan wafat dalam peristiwa ini. Makanya, akses kami tentunya mungkin agak unik, ke kamar-kamar jenazah ataupun ke penampungan pemulasaraan jenazah yang ada di Arab Saudi,” jelas Muchlis mendeskripsikan tim ketiga.

Tim identifikasi jenazah korban Mina, menurut Muchlis, beranggotakan 4 orang. Selain dirinya sebagai ketua tim, ada tiga anggota lainnya, yaitu: dr. Taufik Tjahjadi (Kemenkes), Naif Bajri Basri Marjan (Temus), dan Fadhil Ahmad (KJRI). Mendapat mandat khusus untuk mengidentifikasi dengan menyisir sudut-sudut tempat pemulasaraan Mua’ishim. “Sayang, lebih dari 1×24 jam sejak peristiwa, kita baru dapat akses di Mu’aishim, itupun terbatas hanya untuk melihat, mengamati, mencermati foto-foto yang mereka rilis,” terangnya.

“Foto-foto yang sudah dipublish, bisa kita lihat, kita amati. Itulah modal awal kami untuk mencari jemaah,” tambahnya.

Akses yang sudah diperoleh, meski kecil, dimaksimalkan. Ribuan foto yang didisplay pada dua ruang galeri di Mu’aishim diteliti satu persatu, mencari petunjuk awal dalam proses identifikasi. Sebenarnya ada tiga hal yang dilakukan pihak Mu’aishim terhadap jenazah korban Mina. Setiap jenazah yang diturunkan dari kontainer berpendingin itu, difoto, diambil sidik jari, lalu diambil sampel DNA. Pada saat bersamaan, seluruh perangkat yang melekat pada jenazah jemaah disimpan dalam satu file sebagai data pendukung identifikasi jemaah.

Sayang, akses yang diberikan ke tim identifikasi baru sekedar melihat dan mengamati foto untuk mengenali jenazah jemaah haji Indonesia. Dengan ribuan foto yang ada tentu ini bukan pekerjaan mudah, belum lagi konsentrasi mereka harus diganggu oleh sengat bau yang menusuk dari gedung seberang jalan yang menjadi tempat pemulasaraan jenazah.

Perlahan tapi pasti, jenazah mulai diidentifikasi. Selang dua hari, tim identifikasi berhasil mengidentifikasi tiga jenazah jemaah haji Indonesia. “Ada yang bisa kita lihat, kita identifikasi, kita verifikasi, yang berangkat dari kebiasaan orang Indonesia, kelaziman orang Indonesia. Baik dari segi berpakaian mungkin, dari raut mukanya mungkin. Juga hal-hal yang mungkin khas dipakai jemaah Indonesia, seperti gelang dan slayer beraneka warna. Ini modal awal kami di tim ini untuk menelusuri keberadaan dari yang diduga sebagai korban dalam peristiwa ini,” terangnya.

Dengan akses yang sangat terbatas saat itu, mampu mengidentifikasi tentunya adalah sebuah prestasi. Tapi sepertinya tidak bagi sebagian orang yang sebenarnya tidak tahu kondisi riil di lapangan, lalu ikut berkomentar, dan menilai bahwa tim ini lambat dalam mengidentifikasi.

Dia juga berkisah bahwa tim identifikasi tidak mau menyerah. Baginya, akses terhadap foto adalah modal yang harus dioptimalkan untuk menembus akses-akses lainnya. Muchlis sadar bahwa mengandalkan foto saja tentu akan sulit dalam proses identifikasi. Hal lain yang diperlukan adalah akses terhadap data pendukung terkait jenazah yang diarsip (file) oleh pihak Mu’aishim. Menurut Muchlis, akses itu harus ditembus.

“Inilah yang senantiasa kita lakukan siang malam. Dengan pendekatan-pendekatan khusus, kita coba menembus akses. Karena institusi yang ada di sini, baik kepolisiannya, kesehatannya, boleh dikatakan agak sulit kita tembus aksesnya,” kenangnya.

Berbagai upaya dilakukan, termasuk melalui pendekatan kultural. Muchlis beryukur mempunyai anggota salah satu mukimin kelahiran Saudi, Naif Bajri (33). Kemampuannya berbahas Arab dan pengetahuannya akan kultur orang Saudi menjadi modal lain tim identifikasi dalam bernegosiasi. “Pak Naif ini yang tahu kultur, bahasa, dan habitnya orang Arab sini. Dia tahu hal-hal yang bisa menyentuh dan mempererat silaturahmi sehingga mereka bisa terbuka. Itu kami lakukan,” ujarnya.

Pelan tapi pasti, jenazah demi jenazah berhasil diidentifikasi. Sampai dengan hari ini, Jumat (09/10), 123 jenazah dipastikan orang Indonesia, terdiri dari 118 jenazah jemaah haji dan 5 jenazah yang mukim di Arab Saudi. Proses identifikasi tetap berlanjut karena masih ada 5 jemaah haji Indonesia yang dilaporkan belum kembali.

14 hari masa pencarian, mungkin bukan waktu yang cepat, terutama bagi keluarga jemaah yang menjadi korban Mina. Tapi dengan akses yang terbatas, enam belas hari dapat mengidentifikasi 123 jenazah adalah prestasi yang patut diapresiasi. Sekira akses terhadap arsip dan jenazah bisa diberikan sejak awal, mungkin proses identifikasi akan lebih cepat lagi.

Muchlis juga mengaku bahwa dalam menghadapi tantangan tugas pada penyelenggaraan haji tahun ini, dibutuhkan stabilitas emosi yang tinggi. Sebab, selain harus berhadapan dengan perlakukan petugas di Mu’aishim yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, Muchlis juga harus menghadapi ratusan jenazah yang lambat laun semakin berubah kondisi fisiknya.

“Senang dan memiliki kepuasaan batin ketika menemukan korban yang diyakini sebagai jemaah haji Indonesia,” tutupnya.

Dia berharap ke depan jemaah haji Indonesia dibekali dengan gelang tangan yang tidak mudah terlepas. Sebab, dalam gelang itu sudah tercantum beragam informasi yang lengkap terkait identitas jemaah, mulai dari nama, nomor kloter, dan nomor paspor sehingga mudah untuk mengidentifikasi. “Tinggal bagaimana agar bisa didesain sehingga tidak mudah lepas,” katanya. Red: Mukafi Niam

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: