Belajar dari Kiai Sholihin

Di Malang, tepatnya di desa Ngijo Kecamatan Karangploso Malang, ada seorang Kiai bernama KH Sholihin Rozin. Kiai Sholihin, begitu ia biasa dipanggil masyarakat di daerahnya adalah pegiat organisasi yang sangat cakap dan rajin.

Kira-kira tahun 2002 sampai dengan tahun 2004, ia adalah Rais Syuriyah MWCNU Karangploso, Kabupaten Malang. Sekarang sudah menjadi mustasyar di sana. Saat ini, ia kiai alumni pesantren Lirboyo itu masih aktif sebagai Rois Idaroh Syu’biyyah Jatman atau organisasi tarekat NU di Kabupaten Malang. Ia juga sebagai Ketua Majelis Ulama Kecamatan Karangploso. Disamping juga kegiatan-kegiatan dimana ia sering diundang masyarakat dari pemuda sampai yang sepuh-sepuh untuk mengisi ceramah di berbagai acara.

Sebagai seorang kiai, meskipun ia tidak memiliki pesantren, namun dirinya tidak lantas berhenti dalam kegiatan pengembangan keilmuan. Ia sering mengkaji (nderes) kitab-kitab kuning sendiri di kediamannya.

Suatu ketika, ia diminta oleh Pengurus Pesantren PPAI An-Nahdliyah Karangploso, sebuah pesantren yang diasuh oleh KH Muhammad Mansjur, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Malang untuk mengisi pengajian rutin Kitab Kifayatul Atqiya’ setiap Ahad Pon. Kiai Sholihin pasti terlihat membawa kitab tersebut beserta buku catatan kecil berisi catatan ia belajar semalam.

Demikianlah Kiai Sholihin, sebagai salah seorang kiai yang sudah ‘disepuhkan’ masyarakat ia tidak gengsi untuk belajar kapanpun, dimanapun dan pada siapapun. Sebuah pemandangan yang menarik ketika MUI dan NU Kecamatan Karangploso mengadakan kerjasama kegiatan mengaji rutin Kitab Al-Muqtatahofat yang ditulis Kiai Marzuqi Mustamar. Kiai Marzuqi sendiri yang memimpin pengajian itu. Kiai Sholihin terlihat duduk di paling depan sambil konsentrasi ‘ngesai’ kitab dan menyimak keterangan kiai Marzuqi.

Beberapa tahun yang lalu, pada acara rutin Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Kecamatan Karangploso mengadakan musyawarah mengenai sebuah masalah keagamaan. Yang mungkin saking peliknya persoalan sehingga musyawarah tidak menghasilkan keputusan apa-apa, dan masalah ditunda pembahasannya terlebih dahulu (mauquf). Kiai Sholihin juga hadir dalam acara itu.

Pada kegiatan LBMNU berikutnya, ternyata dalam forum itu sudah beredar sebuah makalah atas nama KH Solihin yang membahas permasalahan kemarin dengan tuntas. Makalah itu hasil ketikan komputer dengan beberapa foto copy kitab kuning sebagai landasannya. Tidak tahu siapakah yang mengetikkan makalah tersebut, karena semua mengira Kiai Sholihin tidak bisa mengoperasikan komputer. Yang jelas makalah itu sudah beredar copynya di tengah para peserta Bahtsul Masail.

Teman-teman saya dari pesantren berdecak kagum. Bebera diantara mereka ada yang berkomentar: “Hebat, Sudah sepuh tapi masih aktif menulis. Kita ini yang muda-muda bisa apa? masak kalah sama Beliau.”

Begitulah, Kiai Sholihin, aktif bermasyarakat dalam organisasi, dan senantiasa mengembangkan pengetahuan agamanya dengan senantiasa belajar. (Ahmad Nur Kholis)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: