Berkah Ramadhan, Omzet Pedagang Kurma Meningkat

Probolinggo, Bulan suci Ramadhan 1436 H menjadi berkah tersendiri bagi pedagang kurma. Dalam seminggu saja tidak kurang 2 ton kurma yang laku dan dijadikan menu untuk buka puasa. Jumlah tersebut berdasarkan jumlah kardus kurma yang laku sekitar 200-an kardus yang terjual. Satu kardus memiliki berat 10 kilogram.

Kurma merupakan buah asal jazirah Arab yang identik dengan menu buka puasa kaum muslim yang menjalankan ibadah puasa. Maka tidak heran permintaan akan buah kurma ini meningkat drastis dibandingkan dengan hari-hari biasanya di luar bulan suci Ramadhan.

Seperti yang dialami oleh Faisol Muhammad Banawir, salah seorang pedagang kurma di Kelurahan Patokan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo. Dia mengaku tokonya tidak pernah sepi dari pembeli kurma.

Tetapi dia juga tidak memungkiri bahwa ada perbedaan omset yang diraupnya dibandingkan dengan bulan suci Ramadhan tahun sebelumnya. “Tahun ini permintaan pembeli akan buah kurma relatif stabil. Namun ada pergeseran selera masyarakat terhadap jenis buah kurma yang saya jual,” ujarnya, Ahad (5/7).

Faisol menjelaskan kini warga lebih selektif dalam membeli buah kurma. Warga cenderung datang untuk membeli buah kurma jenis Sayer yang berasal dari Dubai, Uni Emirat Arab. “Kurma jenis Sayer merupakan buah kurma yang paling murah,” jelasnya.

Padahal di bulan Ramadhan tahun sebelumnya, buah dari jenis lainnya seperti golden valley dari Mesir, Palm fruit dari Tunisia dan kurma dari Irak. Namun semenjak terjadi konflik di timur tengah terutama di Yaman dan Irak sangat mempengaruhi ketersediaan stok buah kurma. Akibatnya harga kurma mengalami kenaikan harga.

Meski kenaikan harga jual kurma cukup signifikan ternyata tidak menyurutkan minat masyarakat yang datang untuk menyajikan kurma sebagai salah satu menu untuk berbuka puasa. Buktinya omset toko yang dimiliki Faisol ketika di bulan suci Ramadhan mencapai Rp 15 juta dalam sehari. “Jumlah itu wajar karena trendnya akan semakin menurun sampai H-3 lebaran,” tegasnya.

Menurut Faisol, pelanggannya berasal dari berbagai daerah di Probolinggo. Biasanya mereka datang membeli kurma dalam bentuk kardus yang akan disimpan sebagai oleh-oleh atau mereka konsumsi langsung ketika waktu berbuka. “Ada yang dari Tongas, Leces, Paiton, Pakuniran dan lain sebagainya,” tambahnya.

Bagi Faisol berdagang kurma hasilnya cukup menggiurkan. Dia mengatakan buah kurma bernilai jual tinggi. Kurma bisa bertahan hingga 2 tahun lamanya. Asalkan disimpan di tempat yang sejuk. “Tidak terlalu kering ataupun basah,” akunya.

Selain itu Faisol juga menyebutkan berbagai macam produk olahan kurma lainnya juga diminati oleh pelanggannya. Sebut saja Sari Kurma yang bermanfaat untuk menyembuhkan penderita demam berdarah dan serbuk kurma. “Khusus serbuk kurma bermanfaat untuk mereka ibu-ibu yang belum mempunyai momongan agar dapat segera hamil,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: