Berlangsung Singkat, Munas Bahas Teknis Ahlul Halli wal Aqdi

Jakarta, Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU, Ahad (14/6) tadi malam berlangsung singkat dan diakhiri malam itu juga. Agenda inti Munas Ketiga kali ini adalah pembahasan teknis ahlul halli wal aqdi untuk ditetapkan dan diterapkan pada Muktamar ke-33 NU di Jombang, 1-5 Agustus nanti.

KH Mas Subadar yang menyampaikan kata pengantar mengatakan, sistem pemilihan Pimpinan NU dengan mekanisme ahlul halli wal aqdi telah disepakati dalam Munas Alim Ulama NU di Jakarta 2014 lalu. Model pemilihan ‘tidak langsung’ ini diharapkan lebih maslahat dan menghindarkan NU dari kemungkinan-kemungkinan negatif.

“Dengan ahlul halli wa aqdi kita harapkan NU lestari sampai akhir zaman, seperti zaman pini sepuh kita.  Munas kali ini akan menyempurnakan yang belum sempurna soal ahlul halli wal aqdi,” katanya.

Dalam draft keputusan Munas yang dibagikan kepada para peserta, ahlul halli wal aqdi terdiri dari ulama atau kiai yang berjumlah 9 orang, dengan kriteria beraqidah ahlussunnah wal ajamaah an-nahdliyah, wara’ dan zuhud, bersikap adil, alim, memiliki integritas moral, tawadu’, berpengaruh dan memiliki pengetahuan untuk memimpin.

Ahlul halli wal aqdi atau sering disingkat ahwa akan mempunyai wewenang untuk memilih atau dipilih sebagai pucuk pimpinan NU di tingkat PBNU, PWNU dan PCNU. Sementara konsep ahwa dalam draft keputusan hanya diperlakukan untuk memilih pucuk pimpinan NU di tingkat syuriyah, atau rais aam di tingkat PBNU.

Untuk tingkat PBNU nama-nama ahwa ditetapkan dalam Muktamar. Setiap PWNU dan PCNU mengusukan 9 nama calon ahwa yang selanjutnya akan dihimpun dan dipilih 9 nama yang menempati peringkat teratas.

Forum sidang yang dipimpin oleh Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin secara umum menyepakati jumlah ahlul halli wal aqdi berikut kriterianya. Namun mekanisme penjaringan usulan 9 nama dari tiap PWNU dan PCNU belum ditetapkan lebih rinci. Dalam draf keputusan, 9 nama yang diusulkan diserahkan kepada panitia pada saat registrasi selanjutnya dilakukan tabulasi secara terbuka.

Katib Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Syafruddin dalam kesempatan itu juga mengusulkan mekanisme ahwa tidak hanya diberlakukan untuk pemilihan pucuk pimpinan syuriyah atau rais aam saja tetapi juga pimpinan tanfidziyah atau ketua umum.

Namun Munas yang dilenggarakan Ahad malam, sebagaimana dalam tata tertib, sedianya hanya diperuntukkan bagi syuriyah dan membahas urusan syuriyah. Peserta Munas waktu itu juga mengusulkan perlunya diadakannya forum serupa yang dihadiri jajaran tanfidziyah untuk membahas penerapan ahwa untuk tanfidziyah.

Usulan lain yang dianggap sebagai “jalan tengah”, para calon ketua umum ditetapkan dan diumumkan oleh 9 kiai anggota ahlul halli wal aqdi setelah proses pemilihan rais aam. Selanjutnya para calon dipilih secara langsung oleh para muktamirin.

Munas ditutup sekitar pukul 22.15 WIB. KH Ishomuddin yang memimpin sidang mengatakan, beberapa hal terutama mengenai redaksi Keputusan Munas akan dibahas lebih lanjut oleh “tim perumus”.

Selain KH Mas Subadar dan KH Ishomuddin, terlihat hadir dari jajaran syuriyah PBNU antara lain KH Saifuddin Amtsir, KH Machasin, KH Artani Hasbi. Sementara dari dari jajaran katib hadir KH Yahya Staquf, KH Mujib Qulyubi, KH Musthofa Aqil. Hadi juga beberapa mustasyar dan alim ulama seperti KH Ma’ruf Amin, KH Ghazalie Masroeri, dan KH Abdullah Syarwani.

Data yang dihimpun NU Online, Munas dihadiri 27 perwakilan PWNU seluruh Indonesia mewakili syuriyah masing-masing. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU H Marsyudi Syuhud dan Bendahara PBNU H Bina Suhendra beserta beberapa pengurus tanfidziyah hadir dalam forum munas ini. Beberapa pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom di lingkungan PBNU juga hadir meramaikan gelaran Munas yang dilaksanakan menjelang Muktamar ini. (A. Khoirul Anam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: