Besok, Lesbumi Diskusikan Kekerasan Budaya Pasca 1926-1927

Jakarta, NU Online
Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU akan menggelar diskusi di gedung auditorium lantai 8 PBNU, Jakarta, pada Kamis (17/12). Kegiatan bertema Kolonial Belanda dan Kekerasan Budaya Pasca-1926-1927 tersebut dimulai pukul 13.00 sampai dengan selesai.  

Kegiatan terbuka untuk umum tersebut mengundang beberapa narasumber, yaitu Ketua Lesbumi PBNU KH Ng. Agus Sunyoto. Ia akan membidik kekerasan budaya pasca 1926-1927 dengan dengan pendekatan emic atau sudut pandang kita sendiri.

Sudut pandang ini, kata penulis Atlas Wali Songo, tersebut penting dilakukan. Ia mencontohkan, ketika orang Belanda menceritakan Indonesia akan berbeda ketika orang Indonesia menceritkan dirinya sendiri. “Ketika orang Belanda menceritakan Indonesia ia akan terjebak menggunakan sudut pandang etic (orang luar),” katanya di kantor redaksi NU Online, PBNU, Rabu (16/12).

Pangeran Diponegoro misalnya, lanjut dia, ketika menggunakan sudut pandang etic, dianggap sebagai pengkhianat karena melawan Belanda. Namun akhirnya orang Indonesia sadar bahwa dia adalah pahlawan yang membela tanah airnya. “Sudut pandang Belanda pasti menganggapnya penjahat,” lanjutnya.

Dari diskusi tersebut, kata dia, Lesbumi berupaya memandang jati diri sendiri dengan cara pandang kita sendiri. Kita yang membicarakan diri kita sendiri. Kemudian menyadarkan orang-orang yang sudah terpengaruh dengan cara pandang orang luar tentang kita.

Diskusi yang dimoderatori Widyasena Sumadyo tersebut, mengundang narasumber lain yaitu Ketua PBNU H Imam Azis. Ia akan berbicara tentang rekonsiliasi budaya yang terjadi di Indonesia. Sementara Daniel Rudi akan berbicara proses IPT 1965 di Den Haag. (Abdullah Alawi)  

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)