Buletin Adz-Dzaka’ Forkapik Soroti Dunia Pesantren

Kudus, NU Online
Bulan ini buletin Adz-Dzaka’ kembali hadir dengan bahasan utama menyelami dunia pendidikan. Kajian utamanya menyoroti dunia pesantren sebagai model khas pendidikan di Indonesia. Adz-Dzaka’ adalah buletin yang diterbitkan Forum Komunikasi Antarpimpinan Komisariat (Forkapik) IPNU-IPPNU di bawah naungan Pelajar NU Kudus.

“Awalnya ini buletin khusus untuk edisi bulan Mei, karenanya kami sengaja membidik tema tentang dunia pendidikan kita. Jadinya kalau terbit Mei, pas ada Hardiknas. Tapi ternyata kami terlambat menerbitkannya, kami menyesal. Tapi meski begitu kami bangga telah berhasil, sebab untuk semangat belajar mestinya tidak ada kata terlambat,” ungkap Pemred Adz-Dzaka’ Dina Rosyida, Jumat (10/7) pagi.

Meski tidak mengenyam dunia pesantren, ia menyatakan tertarik mengkaji pesantren bersama teman-temannya.

“Kami tertarik untuk mengkaji dunia pendidikan di pesantren sebab pesantren itu khas. RMI juga menggagas gerakan mengajak para pelajar masuk ke pesantren. Kemarin kami wawancara kepada KH Ahmad Badawi Basyir di pondok Mbareng, Darul Falah, peninggalan abahnya KH Ahmad Basyir almarhum dan mendapat ilmu baru dari sana,” lanjut murid MA NU Mu’allimat ini.

Dalam bahasan utama tertulis bahwa pesantren merupakan miniatur nasional Indonesia. “Pesantren hanya ada di Indonesia, tidak ada duanya di negara lain. Kata Abah Badawi, pesantren merupakan miniatur nasional kita. Di sana menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari Sabang sampai Merauke, yang berbeda suku dan budaya. Sampai sekarang ia menjadi model pendidikan yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan tiada duanya,” paparnya.

Selain membidik dunia pesantren, Adz-Dzaka’ memuat beberapa artikel tentang pendidikan yang ditulis oleh para pelajar aktivis Forkapik. Pada rubrik Biografi mereka menulis tentang kehidupan KH Turaichan Adjhuri, seorang tokoh ulama legendaris ahli Falak Kudus.

Dara kelahiran Kudus 1998 yang menyukai bahasa Inggris ini mengatakan bahwa buletin di bawah koordinasinya itu kini telah mengalami perkembangan.

“Saya dan teman-teman senang akhirnya bisa meningkatkan penampilan buletin. Jadi kalau edisi-edisi yang sebelumnya kami hanya mampu menerbitkan buletin dengan tampilan yang sangat tipis, sekarang sudah lebih baik, tebalnya 32 halaman. Kami rasa bukan kuantitasnya saja yang meningkat, tapi ini juga soal kualitas, bobot tulisan yang ada,” tandasnya. (Istahiyyah/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)