Buya Leter Ajak Masyarakat Awali Perbaikan Diri dengan Idul Fithri

Padang, NU Online
Hari Raya Idul Fihtri datang silih berganti. Setiap lebaran tiba, keadaan berbeda. Lebaran datang  kadang saat bangsa Indonesia menghadapi revolusi fisik merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kadanga lebaran tiba dalam keadaan lapang. Seringkali pula lebaran datang saat sedang menghadapi berbagai tantangan, persoalan hidup yang tak kunjung terpecahkan.

Demikian disampaikan A’wan PBNU Buya H Tuanku Bagindo Mohammad Leter pada khotbah Idul Fithri di hadapan ratusan umat Islam di lapangan Aia Pacah yang diselenggarakan pengurus masjid Al-Ikhlas, Aia Pacah, Padang, Jumat (17/7).

“Sekarang Idul Fithri datang di tengah kita menghadapi bahaya narkoba, penyakit AIDS, dan penyakit masyarakat (pekat) seperti judi, minuman keras, perzinaan, free sex, meningkatnya kekerasan dan kriminalitas, rusaknya moral dan budi pekerti. Semua itu akan melumpuhkan dan menghancurkan generasi dan masa depan bangsa ini,” kata Buya Leter.

Menurut Buya, saat ini keimanan dan ketakwaan kita sedang diuji  oleh berbagai musibah dan bencana seperti gempa, longsor, banjir bandang, kemiskinan. Menurunnya etos kerja, mengendornya ikatan kekerabatan, melemahnya kontrol sosial, meruyaknya dusta dan kebohongan. Melalui puasa, kita mengintrospeksi diri sendiri dengan muhasabah dan maghfirah Allah Swt.

Menurutnya, bila masyarakat dalam ketenangan dan kedamaian tanpa dusta, dendam, dengki, dan fitnah, segala pekerjaan akan berjalan baik dan lancar. Masyarakat saling berkasih sayang dan tolong menolong, rahmat Tuhan akan melimpah ruah.

Sebaliknya, bila anggota masyarakat saling memutuskan silaturahmi, dendam yang berkepanjangan, permusuhan yang tidak henti-hentinya, dusta telah membudaya, maka rahmat Allah akan terhenti.

“Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun pada suatu umat yang di dalamnya orang-orang saling memutus silaturahmi,” kata Leter mengutip salah satu Hadist Rasulullah Saw.

Melalui ibadah puasa dan Idul Fitri, ia mengajak masyarakat membangun kembali jembatan hati. Ia mengajak masyarakat meninggalkan kebiasaan dusta dan bohong untuk terwujudnya persatuan dan kesatuan serta kejujuran untuk menghadapi masa depan demi membangun masyarakat madani, baldatun tayibatun wa rabbun ghafur di atas landasan iman dan takwa. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)