Dengan Bid’ah, Ibadah Jadi Mudah

Cirebon, Bid’ah merupakan suatu perkara yang tidak dilakukan atau tidak ada contoh langsung dari Rasulullah Saw. Mengenai bid’ah ini, Imam Syafi’i membaginya menjadi dua, yaitu bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang buruk (sayyiah).

Hal ini disampaikan oleh KH Ahmad Syauqi Chowas dalam pengajian pasaran ba’da sahur di Pesantren Daarussalam, Buntet Pesantren Cirebon, Selasa (23/6) dini hari.

“Dengan bid’ah, ibadah kita jadi mudah, contohnya baca Al-Qur’an. Zaman Rasul tidak ada Al-Qur’an seperti sekarang. Dulu itu, huruf Arab tidak ada titik dan harakatnya, kita tidak mungkin bisa baca Al-Qur’an yang itu,” katanya

Kiai yang akrab disapa Kang Ugi ini menambahkan, dibuatnya titik-titik dalam huruf Arab tujuannya adalah untuk mempermudah bacaan dan terhindar dari kesalahan dalam membacanya.

“Ba, titik satu di bawah, ta titik dua di atas dan seterusnya. Setelah dikasih titik, masih saja ada yang salah baca, ada orang baca innallaaha bari’un minal musyrikina wa rasulih, artinya sesungguhnya Allah lepas dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya, kan ini salah besar karena tidak ada harakatnya,” tambahnya

Seharusnya, kata dia, itu dibaca innallaaha bari’un minal musyrikina wa rasuluh, yang artinya sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya lepas dari orang-orang musyrik, maka muncullah harokat fathah, dhomah, kasroh, tanwin.

Kemudian pada perkembangan selanjutnya, kata dia, muncul juga ilmu tajwid yang lahir jauh setelah Rasul wafat dan sampai sekarang ilmu itu sangat bermanfaat bagi umat Islam.

“Kesininya lagi, ada MTQ, ada juga Video dan MP3 Al-Qur’an, bisa masuk TV, HP dan seterusnya, inilah bid’ah yang baik dan berkah, sebab bisa mempermudah ibadah dan juga dakwah,” tutupnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)