Di Lasem, Rombongan Disambut Meriah

Lasem,
Rombongan Kirab Hari Santri menuju yang tiba di Masjid Jami Lasem pada Senin (19/10) jam 10 pagi. Disambut meriah dan suka cita oleh segenap Pengurus PCNU Lasem dan santri Lasem tak kurang 2000 orang yang hadir. 

Mereka melakukan istighotsah dan ziarah ke makam wali antara lain Mbah Sambu dan 3 pendiri NU yang dimakamkan di komplek masjid itu yaitu Mbah Ma’shoem, Mbah Kholil dan Mbah Baidlowi. Tahlil dipimpin oleh KH.Imam Shofwan Alhafidz, doa oleh KH.Syihabuddin Ahmad, Mbah Najih Leran dan Kiai Habib Ridhwan.

Rombongan Kirab  terdiri koordinator KH Aizuddin Utsman Pengurus PBNU sekaligus Ketua Umum PP Pagar Nusa bersama amggota mengendarai sedikitnya 5 minibus. Sambutan tuan rumah oleh KH M Zaim Ahmad Ma’shoem, wakil rais syuriyah PCNU Lasem menyampaikan sejarah Mbah Ma’shoem, Mbah Kholil dan Mbah Baidlowi dalam proses pendirian NU sampai pada proses lahirnya Resolusi Jihad, sesekali takbir Allahu Akbar. Waktu itu Mbah Hasyim Asy’ari menugaskan Mbah Ma’shoem dan Mbah Baidlowi menggerakkan ulama di wilayah barat, adapun Mbah Wahab Chasbullah di wilayah Timur kemudian berkumpul di Surabaya 22 Oktober 1945 menyatakan Resolusi Jihad.

Setelah mendapat buku manaqib Mbah Ma’shoem kemudian perjalanan kirab berlanjut menuju Rembang, Kajen, Kudus, Demak, Semarang, Kaliwungu, Pekalongan, dan Tegal. Sementara itu mereka akan tiba di Semarang pada Selasa (20/10) yang akan disambut oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. 

Pada Rabu (21/10) mereka akan tiba di Cirebon dan akan singgah di Universitas NU. Kemudian perjalanan akan dilanjutkan ke Indramayu, Pamanukan, dan Kerawang. Lalu pada Kamis (22/10) mereka tiba di Cibarusah pusat latihan kemiliteran Lasykar Sabilillah (jalan Allah) dan Laskar Hizbullah (Tentara Allah) pada tahun 1945, sebuah kecamatan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bintara dan juga Tugu Proklamasi Jakarta sebagai lokasi finish kirab. 

KH Said Aqil Siroj, ketua umum PBNU menyatakan pada pokoknya Kirab Resolusi Jihad diselenggarakan untuk memperingati perjuangan santri pada masa revolusi pasca kemerdekaan. Bagi masyarakat Lasem juga tidak bisa dilepaskan dari peran pendahulunya, yaitu Kiai Ali Bailowi bakda shalat Jum’at Agustus 1750 M di Masjid  Jami Lasem weworo atau menyampaikan maklumat  perang sabil pada masa penjajahan Belanda. Perang pun tak terhindarkan, banyak korban jatuh baik dari bala sabil maupun penjajah. Jadi antara weworo perang sabil dan resolusi jihad ada mata rantai perjuangan kemerdekaan yang berkesinambungan, digerakkan sama- sama mereka keturunan Mbah Sambu, darah ksatria pejuang, cucu Joko Tingkir. (Abdullah Hamid/Mukafi Niam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: