Di Raudhah, Jamaah Haji Perempuan Diharap Patuhi Jadual

Madinah, NU Online
Antusias calon jamaah haji untuk beribadah di Masjid Nabawi Madinah demikian tinggi. Nyaris tidak ada waktu longgar setiap harinya. Para jamaah harus taat jadwal dan lebih banyak mengalah selama berada di masjid ini.

Hal tersebut disampaikan Ana Farhasyi kepada media ini, Jum’at (11/9) waktu setempat. “Ghirah atau semangat para jamaah sangat tinggi untuk selalu berjamaah di Masjid Nabawi Madinah ini,” katanya. Hal ini lantaran melaksanakan anjuran Rasulullah untuk menyempatkan shalat Araba’in yakni melaksanakan jamaah shalat rawatib sebanyak 40 kali tanpa putus, lanjutnya.

Suasana semakin tidak terkendali ketika jamaah berusaha berada di Raudhah, tempat mustajabah di sebelah makam Rasulullah SAW. “Nah, saat di Raudhah inilah semua pihak harus sabar dan lebih banyak mengalah,” kata desainer baju muslim di Surabaya ini.

Sebenarnya pihak pemerintah setempat telah memberikan jadwal agar jamaah bisa lebih leluasa dan nyaman saat beribadah di Raudhah. Khusus untuk jamaah perempuan, Raudhah dibuka saat pagi antara jam 7 hingga 11 siang. Juga pada jam 2 hingga 3 bakda Shalat Dhuhur. “Serta jam 10 hingga 1 dini hari,” katanya.

Dengan pembagian tersebut, jamaah khususnya perempuan dapat menyesuaikan dengan waktu yang telah ditentukan. “Masalahnya, kebanyakan jamaah tidak mau nurut dengan jadwal yang ada, dan saat berada di Raudhah terus berusaha berada di barisan terdepan,” ungkapnya.
Ustadzah Ana, sapaan akrabnya menyarankan jamaah perempuan dari tanah air bisa taat jadwal. Demikian juga jangan sampai lupa untuk terus mengalah dengan jamaah lain.

Pemilik Majmal Boutique di Malang dan Surabaya ini mengalami sendiri kejadian saat berada di lift. “Ada beberapa jamaah dari luar negeri yang memaksa masuk lift padahal daya tampung tidak memadai,” kisahnya. Rombongan jamaah tersebut juga tidak mau keluar dan malah memaksa menutup pintu lift. Akibatnya, tanda emergency berbunyi dan lift tidak bisa jalan dan  tertahan 15 hingga 20 menit, lanjutnya.

Imbas kejadian tersebut, alumnus Pesantren di Bangil Pasuruan ini pingsan. “Alhamdulillah, petugas lift yang standby di luar sigap, sehingga bisa membuka pintu lift dengan cepat,” ungkapnya.

Peristiwa ini setidaknya memberikan pelajaran bahwa sabar dan taat jadwal serta mengalah dalam banyak hal sebagai solusi terbaik. “Haji dan umrah kan ibadah yang mengharuskan kita memberikan segalanya, fisik, mental, juga harta demi mendapatkan ridha Allah SWT,” katanya. 

Karenanya sudah sepatutnya jamaah bisa menyadari hal tersebut. “Ini kan demi kenyamanan dan kekhusyukan selama beribadah di tanah suci,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mukafi Niam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)