Empat Pilar Harus Dipaparkan Berkesinambungan

Jakarta, NU Online
Sosialisasi dan pemaparan 4 (empat) pilar berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika harus berkesinambungan.

Peryataan itu disampaikan Presiden Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) HM Syaiful Bahri Anshori di Jakarta, Rabu (17/6). “Pemahaman yang kurang dan pengamalan serta implementasi yang masih jauh dari kata maksimal terhadap Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara sepatutnya diantisipasi dengan selalu disampaikan kontinu,” ujarnya.

Empat pilar berbangsa dan bernegara, ujar Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) masa khidmat 1997 – 2000, akan menjadi instrumen pengokoh dan landasan riil lagi konkrit yang dapat dimanfaatkan dalam persaingan menghadapi globalisasi.

“Untuk itulah perlu dipahami secara memadai makna empat pilar berbangsa dan bernegara tersebut, sehingga kita dapat memberikan penilaian secara tepat, arif dan bijaksana terhadap empat pilar dimaksud, dan dapat menempatkan secara akurat dan proporsional dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” paparnya.

Anggota DPR RI dari PKB itu melanjutkan, dalam kondisi kekinian, kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Problematika sosial yang terjadi di masyarakat sudah menjurus anarkisme dan kriminalitas.

“Persoalan-persoalan sosial yang tidak terurai dan tidak menemukan penyelesaian yang arif dari berbagai pihak menambah carut-marutnya kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat kita. Belum lagi persoalan persoalan global yang menancapkan kuku-kukunya di negera kita,” kata dia lagi.

Dalam kondisi yang semakin tidak pasti dan tidak adanya penyelesaian yang sangat substantive dari persoalan-persoalan kebangsaan tersebut, ujar alumni Sastra Arab, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta 1990 itu melanjutkan, empat pilar berbangsa dan bernegara harus tampil dan memaknai kehidupan, falsafah dan pedoman masyarakat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada.

“Salah satu yang perlu dan sangat memungkinkan bagi masyarakat Indonesia dalam memahami dan mengimplementasikan empat pilar berbangsa dan bernegara tersebut adalah perubahan cara pandang, ‘mind set’ yang mempunyai landasan kokoh dalam filosofi dan falsafat berbangsa dan bernegara,” ujar Staf Khusus  Menteri Pemuda dan Olahraga tahun 1999 – 2000 itu lagi.

Semua fenomena dan nomena kurang baik yang selama ini hadir dalam kehidupan masyarakat Indonesia, lanjut Wakil Sekretaris Jenderal PBNU masa khidmat 2000 – 2010 itu meneruskan, harus diakhiri dengan membangkitkan semangat, pengetahuan mengenai arti pentingnya Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara.

“Pemaknaan sosialisasi empat pilar menjadi urgen dan koheren dengan situasi dan kondisi kekinian sebagai bekal pengetahuan dalam menyelesaikan dan menghadapi arus globalisasi dan kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya lagi.

Ia menegaskan, revitalisasi, reaktualisasi dan implementasi nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara harus senantiasa dijaga dan menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila sebagai dasar negara, falsafah dan pandangan hidup bangsa; UUD Tahun 1945 sebagai landasan kostitusional dalam bernegara; NKRI sebagai konsensus yang harus dijaga keutuhannya; Bhineka Tunggal Ika sebagai semangat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,

“Karena itu, dengan beragam perbedaan yang ada, sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara harus senantiasa dijaga dan menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara. Sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara juga menjadi sangat penting dan urgen untuk selalu dilakukan secara sustainable, sistematis dan berkesinambungan sebagai refreshing dan reformating untuk menumbuh kembangkan kembali cita cita luhur para founding father kita tentang konsepsi pendirian negara kita,” paparnya.

Terkait sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara , alumni MI, Tsanawiyah dan MA Salafiyah Pati, Jawa Tengah tersebut mengaku sudah melakukannya. Seperti pada Senin 12 Mei 2015 di Jember Jawa Timur yang dihelat SBA Institute dengan jumlah peserta 100 orang dengan materi kegiatan: 1. Pancasila, 2. Undang Undang Dasar 1945, 3. NKRI dan 4. Bhineka Tunggal Ika.

Indonesia adalah bangsa yang besar dengan berbagai perbedaan, keberagaman yang harus disyukuri dan diikat dengan nilai-nilai Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa, demikian Syaiful Bahri Anshori.

Selain dirinya, terlibat sebagai pembicara ialah Hafid Hasyim, Abd Qodim Manembojo, Barnabas Habibi dan Ely Anggraeni. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: