Es Krim Durian Antarkan Santri Ini Juara BSM Santripreneur

Jakarta, NU Online
Jika mendengar kata es krim, kebanyakan orang langsung ingat merk luar negeri. Makanan dingin yang disukai anak-anak dan remaja itu memang terlanjur dikuasai pabrikan besar. Namun masyarakat sebenarnya memiliki alternatif es krim asli Indonesia. Juga tak merusak kesehatan karena memakai bahan alami, tanpa pengawet, pewarna maupun zat aditif perasa aritifisal.

Uno Ice Cream adalah salah satu produsen es krim asli Indonesia yang memenuhi kriteria tersebut. Istimewanya, dibuat dari bahan durian asli. Sebuah rasa es krim yang tidak pernah dibuat oleh industri es krim manapun di dunia.

Hebatnya lagi, perusahaan yang berdiri di Malang pada 2013 lalu ini  dibuat oleh seorang alumnus pesantren yang juga menjadi menantu seorang kiai di Jawa Timur. Ialah Muhammad Aminul Wahib, pemuda kelahiran Lamongan, 12 Februari 1990 yang berhasil memenangkan ajang penganugerahan santri pengusaha dari Bank Syariah Mandiri bertajuk BSM Santripreneur Award 2015.

Wahib, panggilan akrab alumni Ma’had Ali UIN Malang ini berhasil meyakinkan dewan juri yang mencecarnya dengan pelbagai pertanyaan meliputi lima aspek. Yakni ide usaha, keuntungan usha, jiwa wirausaha, akhlak dan komitmen pada syariat, serta kemampuan menguasai pasar.

Wahib yang mendaftar atas rekomendasi mertuanya, KH Imam Suyudi pengasuh Pondok Pesantren Al-Islam Koresan Mlarak Ponorogo, mendapat nilai 344 dari dewan juri yang terdiri dari DR KH Marsudi Syuhud (PBNU), Prof Ahmad Mubarok (Konsorsium Pesantren), H Sweet Luvianto (Indonesia Islamic Business Forum; IIBF), Agus Dwi Handaya (BSM), Ahmad Sugeng Utomo (Rumah Entrepreneur Indonesia), dan Noor Wahyudi (Konsultan Bisnis).

Ia mengalahkan dua nominasi kandidat juara dalam kategori usaha bidang boga. Dua kandidat juara yang disisihkan Wahib dalam penjuarian babak akhir pada Rabu (30/12/2015) di Hotel Acacia adalah pemilik pencipta ayam kremes “Kremesto” Seiana Puspitasari (Santri Jogja), dan pemilik “Capcuzz Kopi yang Bikin Kenyang” Randhika Prawira Putra (Santri Jogja alumnus Ponpes Gontor).

Alasan kuat para juri memenangkan dia karena Wahib “hanya” lulusan SMA, tetapi punya istri sarjana dan seluruh karyawannya yang berjumlah 14 orang di 20 cabangnya adalah para sarjana. Juga karena dia pernah mendapat Kredut Usaha Rakya (KUR) dari bank pemerintah. Sedangkan dua kandidat lain meski sama-sama baru berjalan dua tahun usahanya, belum berani meminjam ke bank.

“Usaha saya memakai model kemitraan. Saya yang membuat racikan es krimnya, lalau diproduksi oleh para karyawan di tiga kota berbeda, lalu didistribusikan ke mitra yang saya sebut stokist, lalu dijual eceran oleh para mitra di seluruh Indonesia. Laba bersih per bulan rata-rata Rp  juta,” tuturnya.

Bahan baku durian, dia sebutkan, didapatkan dari pulau Jawa dan Sumatera. Pasokan tercukupi karena musim durian di Jawa dan Sumatera berbeda  bulan. Jadi sepanjang tahun ada durian.

Koordinator Dewan Juri Noor Wahyyudi menerangkan, BSM Santripreneur Award 2015 hanya boleh diikuti santri yang telah memiliki usaha minimal berjalan satu tahun dan usia si santri maksimal 35 tahun. Untuk mendaftar harus melampirkan surat  rekomendasi dari kyai yangmenyatakan bahwa si pendaftar benar-benar santrinya. Lengkap dengan cap pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam pemberi rekomendasi. (ichwan)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)