Fenomena Jamaah “Romli” pada Muktamar

Solo, Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama secara resmi telah dibuka Presiden RI Ir H Joko Widodo, Sabtu (1/8) malam, ditandai dengan alunan bedug yang dipukul sang presiden.

Warga Nahdliyyin datang dari berbagai darah secara berduyun-duyun. Mulai dari kalangan pejabat sampai rakyat, kiai beserta santri, peserta resmi dan tak resmi atau biasa dikenal dengan peserta romli.

Khusus peserta terakhir ini, selalu muncul dalam dari tahun ke tahun, dari muktamar satu ke muktamar lainnya.

Romli merupakan istilah populer, singkatan dari “rombongan liar”. Dikatakan liar, sebab mereka datang bukan sebagai peserta yang mengikuti forum sidang muktamar, akan tetapi mereka hanya datang semata-mata ingin ikut meramaikan, atau bahkan sekedar merasakan semarak muktamar.

Namun, istilah “rombongan liar” yang disematkan pada peserta romli, tidak begitu saja diterima oleh mereka.

“Romli itu bukan rombongan liar, melainkan rombongan lillahi ta’ala!” kata Lasimin, salah satu rombongan dari PCNU Sukoharjo, saat hendak berangkat ke Jombang, Sabtu (31/7).

Keberadaan para romli di arena muktamar, sebetulnya juga memberikan banyak manfaat bagi tuan rumah penyelenggara.

Sebutan lain yang dinilai pas adalah muhibbin alias para peserta penggembira yang memang hadir semata-mata karena simpatik dan cinta kepada NU. Mereka turut memberikan sumbangan yang besar, khususnya bagi perekonomian Kota Jombang dan sekitarnya. Kehadiran mereka meningkatkan pergerakan ekonomi di daerah setempat. Warung makan, penginapan, transportasi umum, dan lainnya mengalami lonjakan permintaan yang cukup signifikan. (Ajie Najmuddin)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)