GP Ansor Aceh Sebut Sejumlah Tantangan Pemuda NU Pasca Nusron

Banda Aceh,
Ketua GP Ansor Aceh Samsul B Ibrahim mengapresiasi GP Ansor di bawah kepemimpinan H Nusron Wahid. Menurut Samsul, Nusron mampu menciptakan daya tarik pemuda Aswaja untuk terlibat dalam gerakan GP Ansor. Namun, ke depan tantangan bagi GP Ansor lebih besar. Karenanya, organisasi gerakan pemuda NU memerlukan pemimpin yang tanggap persoalan kekinian.

“Itulah output kinerja yang sudah diinvestasikan Nusron Wahid dalam GP Ansor. Kerjanya membuktikan betapa pesantren mampu melahirkan pemimpin-pemimpin berintegritas. Tidak heran Kongres Ansor ke-XV di Yogyakarta ini akan diwarnai oleh tokoh-tokoh kiai muda yang tidak saja paham agama namun punya nasionalisme yang besar dalam melihat Indonesia. Kami mendukung estafet kepemimpinan Ansor ke depan dipimpin oleh para kiai muda yang mampu meminimalisasi syahwat politik,” kata Samsul, Kamis (19/11).

Pasca berakhirnya kepemimpinan Nusron Wahid, kandidat Ketua PP GP Ansor ke depan secara langsung akan menanggung beban yang besar. Selain harus menjaga prestasi kepemimpinan yang ditinggalkan Nusron Wahid, mereka juga tentunya akan berhadapan dengan masalah-masalah kepemudaan yang baru.

Selain berhadapan dengan persoalan domestik Indonesia seperti tantangan perekonomian dan paham-paham radikal yang menyebabkan lahirnya konflik horizontal, para pemuda Ansor nantinya juga akan dihadapkan pada problematika internasional.

“Ansor harus mampu mengontrol tingginya arus globalisasi serta adanya pemahaman yang salah tentang Islam baik di Amerika, Eropa, dan daerah-darah lainnya,” kata Samsul.

Menurut Samsul, GP Ansor membutuhkan sosok pemimpin yang mampu melihat Indonesia dari Aceh hingga Papua. “Sosok yang mampu merangkul berbagai pemegang kebijakan untuk kepentingan masyarakat luas, bukan kepentingan kelompok atau warna tertentu,” tukas Samsul.

Ia mengajak seluruh keluarga besar Ansor di Indonesia untuk menyukseskan perhelatan Kongres Ke-XV GP Ansor. Kongres ini tidak saja dilihat sebagai momentum transisi kepemimpinan. Lebih daripada itu, medium kongres harus dijadikan sebagai sarana silaturahmi untuk berbagi informasi-informasi yang ada di daerah-daerah tertentu di Indonesia.

Tantangan Indonesia ke depan cukup banyak. Secara ekonomi, peluncuran Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan membuka potensi kesenjangan yang cukup besar di antara pemuda itu sendiri. Diakui atau tidak, MEA menciptakan kondisi persaingan ekonomi yang tidak sehat baik di antara sesama pemuda lokal, maupun antarpemuda se-ASEAN.

“Saya secara personal berharap kongres ini nantinya benar-benar menghasilkan program-program pengembangan kepemudaan yang bagus. Yang mencakup hajat hidup pemuda secara luas. Mulai dari masalah sosial sampai ekonomi. Harus seimbang. Karena dakwah itu juga butuh biaya,” tutupnya. (Red Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: