GP Ansor Waykanan Tingkatkan SDM Anak Yatim Yayasan Shuffah

Waykanan,
Bekerja sama dengan Yayasan Shuffah Blambangan Umpu, GP Ansor Waykanan terlibat aktif mengurai persoalan anak yatim piatu di daerah setempat. Mereka melakukan pemberdayaan yatim dengan menyekolahkan dan sejumlah keterampilan.

“Kita tidak boleh lagi asyik terpaku mengulurkan hati bagi anak-anak yatim piatu semata. Hari ini, kita harus mengulurkan keberanian, harapan, keyakinan bagi mereka,” ujar Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Jumat (9/10).

GP Ansor Waykanan mempunyai program Digdaya (Mendidik Generasi Memberdayakan Masyarakat). “Program tersebut harus diupayakan berjalan dengan perbuatan. Memfasilitasi pelajar untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau Sanlat BPUN telah dilakukan dan mengantar lima generasi muda Waykanan untuk belajar lebih tinggi lagi,” kata pemiliki gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu menjelaskan.

Menurut Gatot, GP Ansor sudah menjalin komunikasi Ketua Yayasan Shuffah Khairul Huda. “Yayasan Shuffah sudah memiliki binaan sejumlah anak yatim piatu dan kurang mampu yang kontinu disantuni atau ada pula disekolahkan. Selain dari dana mandiri, ada beberapa pihak yang tertarik untuk berbagi dengan anak-anak yatim piatu,” kata Gatot lagi.

Alumni Civic Education For Future Indonesian Leaders (CEFIL) Yayasan Satunama Yogyakarta itu lalu melanjutkan, bantuan bagi anak yatim piatu itu akan disalurkan namun dengan konsep pemberdayaan atau pendampingan wirausaha.

“Mereka harus didorong berwirausaha dan tumbuh mandiri. Orang harus bisa menolong dirinya sendiri, dilatih menjadi dokter bagi diri sendiri jika sakit. Mereka harus diberi tanggung jawab sejak dini. Kita tidak boleh terus menerus merebut tanggung jawab mereka dengan memberi bantuan-bantuan yang berdampak memanjakan. Mereka harus tumbuh menjadi ksatria, individu bermartabat yang tidak lari dari tanggung jawab diamanahkannya,” ujar Gatot lagi.

Wirausaha akan dijalankan anak yatim piatu ini sesuai keinginan mereka. Mereka bisa berjualan beras, pulsa, madu atau yang lain.

“Kita akan mendengarkan keinginan mereka lalu kita fasilitasi. Bantuan tersebut nanti akan disalurkan dalam bentuk barang dengan nominal tertentu, misal Rp500 ribu. Setelah itu Ansor dan Yayasan Shufah akan membantu memasarkan dagangan mereka, mengajari mereka mencari jaringan. Gerakan pemberdayaan semacam itu yang akan kami jalankan secara bertahap. Saya optimistis dan tidak ragu, hal baik dan untuk NU selalu ada jalan,” kata Gatot lagi. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: