Gus Balighin: Tidak Semua Amalan Agama Menggunakan Akal

Pringsewu, NU Online
Di era modern seperti sekarang ini sering ditemui orang ataupun kelompok yang mengedepankan akal dari pada hati di dalam menafsirkan dan memahami ilmu ilmu agama. Padahal dalam beragama, tidak hanya menggunakan akal saja namun ada sisi-sisi dimana mata hati dan nurani digunakan agar dapat beragama dengan baik.

Itulah penjelasan Wakil Rais Syuriyah PCNU Pringsewu Kiai Mubalighin Adnan pada Ngaji Ahad atau Jihad di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad, 24/05/15. Jihad kali ini mengangkat tema tasawuf dengan referensi kitab Naso’ihul Ibad Karya Syeh Nawawi Albantani.

Menurut Gus Balihin, panggilan keseharian pengasuh Pesantren Miftahul Huda Ambarawa ini, akal lebih mengandalkan indera mata dalam menganalisa sesuatu. Oleh karena yang dihasilkan oleh akal tidak mesti objektif dan baik. Sebaliknya apa yang dihasilkan oleh kata hati nurani mestinya merupakan hal-hal yang positif. “Makanya ada istilah ikuti kata hatimu bukan ikuti kata matamu,” ungkapnya.

Lebih lanjut Gus Balighin menjelaskan bahwa ketika orang mengedepankan dan mengandalkan akal dari pada hati di dalam kehidupannya, hal ini merupakan tanda-tanda hilangnya kebaikan pada dirinya, sebagaiman yang pernah disampaikan oleh Sayyidina Ali Karramallahu wajhah bahwasanya ada 5 hal yang dapat menjauhkan manusia dari kebaikan dan keshalehan.

Pertama adalah pasrah dengan kebodohan dalam artian tidak mau berusaha dan tidak mau belajar serta memahami sesuatu terutama ilmu-ilmu agama. Kedua adalah terlalu senang dan terlena dengan dunia sehingga lupa bahwa kehidupan yang paling baik dan kekal adalah akhirat. Ketiga adalah kikir dengan kelebihan rezeki dan nikmat. Keempat adalah riya’ atau senang memamerkan sesuatu dan yang ke lima adalah mengandalkan akal daripada hati nurani.

Oleh karena itu Gus Balighin mengajak kepada jamaah untuk senantiasa meninggalkan hal-hal tersebut sehingga kebaikan akan selalu hadir di dalam kehidupan di dunia yang sangat kecil ini jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. 

Diakhir penyampaian Gus Balighin mengingatkan jamaah dengan hadits Rasulullah yang diriwayatkan olem Imam Muslim bahwasannya perbandingan kehidupan dunia dengan akhirat adalah seperti air yang ada ditelunjuk kita setelah dicelupkan ke dalam lautan. 

“Laut adalah akhiratnya sedangkan air di telunjuk kita itulah dunia,” pungkasnya. (muhammad faizin/mukafi niam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: