Gus Dur: Tak Boleh Ada VIP, Semua Tamu Saya VIP

Jakarta, Sikap sabar, penuh pengertian, dan toleransi juga ditunjukkan oleh Gus Dur kepada putri-putrinya. Menurut Alissa, ketika ia kecil dan misalnya melakukan hal berbeda dari yang seharusnya, Gus Dur tidak pernah memberikan hukuman kepada anak-anak. Saat melakukan kesalahan, ia akan diajak ngobrol dan ditanya, “Itu tadi gimana?”

Dalam pergaulan, Alissa mengatakan ia dan adik-adiknya tidak dibatasi harus bergaul dengan siapa atau tidak boleh bergaul dengan siapa. Padahal Gus Dur adalah kiai terkenal. Menurut Alissa, tentu saja ada ekspektasi yang berbeda dari lingkungan tentang keluarganya. 

“Beliau tidak pernah membatasi kami. Dan kami mendapatkan kekuatan dari situ,” ujar Alissa saat mengisi program ‘Gus Dur Kita’ di Radio NU Jakarta.

Gus Dur memang tidak menanamkan sikap membeda-bedakan terhadap orang lain. Alissa dan melihat sendiri Gus Dur tidak pernah membedakan orang. Adalah sama sikap Gus Dur ketika ketemu dengan santri, orang muda atau tetangga.

“Kami belajar itu,” tutur Alissa. “Mau dihormati atau apa, itu tidak membuat kami merasa lebih tinggi. Mereka (yang datang itu) menghormati Gus Dur, saya cuma dapat barokah. Gus Dur sendiri begitu, tidak sombong, masa kami yang cuma anak-anaknya jadi sombong?” 

Alissa menegaskan bahwa Gus Dur tidak pernah mengajarkan atau bersikap gila hormat, apalagi sok priyayi, hal yang biasanya kita temukan pada dalam keluarga pejabat atau tokoh besar. 

“Sewaktu kecil, saat ada tamu walaupun santri biasa, kalau lebih tua kami tetap cium tangan. Nggak diajarkan kalau itu bukan kiai, nggak usah cium tangan,” kata Alissa lagi.

Hal serupa – tidak membeda-bedakam kelas – juga Alissa alami saat ia melangsungkan pernikahan. Untuk menyiapkan resepsi pernikahan Alissa, Gus Dur menekankan kepada panitia dan seluruh keluarga, “Tidak  boleh ada VIP, karena tamu saya semuanya adalah VIP.”

Hal itu membuat heran banyak orang. Panitia resepsi pun banyak diprotes, karena tamu-tamu yang merupakan para pejabat, menteri, politikus dan semacamnya, Harus sama-sama antri dengan tamu-tamu yang lain, yang terdiri dari berbagai kelas sosial. 

“Waktu itu teman-teman kuliah saya sama dengan menteri,” kata Alissa terkekeh. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: