Gus Mus: Umat Lebih Butuh Dokter Kemasyarakatan

Jakarta, NU Online
Banyak orang tua yang menitipkan pendidikan anaknya ke sekolah kedokteran agar mampu mengobati raga yang sakit. Tapi sungguh jarang sekali mereka yang menitipkannya ke sekolah akhlak dan kemasyarakatan, supaya sanggup menyembuhkan akhlak umat dan menata sistem kemasyarakatannya.

Demikian dinyatakan KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus saat mendaras kitab “Idhatun Nasyiin” bersama santri dan masyarakat umum di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, sebagaimana disiarkan langsung oleh Radio NU, Senin (22/6).

Mengutip kandungan kitab, Gus Mus mengatakan, kenyataan tersebut terjadi lantaran adanya kerusakan jiwa yang mengunggulkan hal-hal yang bersifat material daripada yang moral. “Di sini sekolah akhlak ya pesantren,” jelas Pejabat Rais Aam PBNU ini.

Umat, kata Gus Mus, memang membutuhkan para lulusan sekolah kedokteran dan sekolah akhlak. Namun, para dokter kemasyarakatan (athibba’ul ijtima’) dan ahli budi pekerti lebih diperlukan ketimbang orang-orang yang sekadar bisa mengobati penyakit jasmani.

Menurutnya, masyarakat kini telah dilenakan oleh berbagai godaan yang serbaduniawi. Mereka banyak yang terjerat oleh budaya konsumsi. Gus Mus juga menyinggung soal media dan pers yang ditunggangi kepentingan tertentu, rendahnya budaya baca, dan maraknya politik uang.

Untuk memperbaiki masyarakat yang “sakit” ini, para reformis mesti melakukan usaha yang tertata dan terkondisikan. Mereka harus mampu membangun kesadaran di masyarakat karena sesakit apapun mereka pasti memiliki nilai-nilai baik yang terpendam. “Ini (kebaikan yang terpendam) harus ada yang membangkitkan. Ya dokter masyarakat tadi,” tuturnya.

Dalam pembahasan “Ats-Tsaurah al-Adabiyah” (revolusi akhlak) itu, Gus Mus mengingatkan, umat tidak akan bangkit kecuali dengan pendidikan budi luhur, menjebol akhlak yang rusak, dan menata sistem kemasyarkaatan.

“Entah namanya revolusi mental, revolusi moral, atau apapun, yang jelas kelakukuan-kelakuan buruk itu harus dikikis secara serentak dengan gerakan yang massal,” ujarnya.

Pada Ramadhan tahun ini pengajian online bersama Gus Mus disiarkan rutin oleh Radio NU selepas shalat tarawih atau sekitar pukul 20.00 WIB. Pendengar bisa menyimak dari mana saja yang terkoneksi dengan internet.

Pengajian bersama Gus Mus berlangsung dalam suasana santai dan akrab dengan bahasa campuran antara Jawa dan Indonesia. Kitab “Idhatun Nasyiin” merupakan karya Syekh Musthofa al-Ghulaini.

Radio NU juga menyiarkan langsung pengajian bersama Katib Syuriah PBNU KH Afifuddin Muhajir dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Jawa Timur; dan Gus Yusuf Chudlori dari Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah. (Mahbib Khoiron)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: