Hari Santri, Jangan Sekadar Seremoni

Sidoarjo, Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Jamiyyatul Qurra’ wal Huffadz Nadlatul Ulama (JQH NU) Jawa Timur M Tohir menyatakan bahwa gebyar Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2015 cukup banyak mendapatkan respon dari masyarakat.

Pasalnya, geliat peringatan tersebut terlihat dari berbagai even mulai yang simbolik sampai kegiatan nyata. Mulai dari yang bersifat personal sampai dengan kegiatan-kegiatan instititusional. Pernyataan ini disampaikan oleh M Tohir melalui pesannya yang diterima NU Online, Selasa (27/10).

“Tentunya, acara demi acara dalam menyambut Hari Santri bukan menjadi rutinitas seremonial saja. Yang paling penting dengan hadirnya Hari Santri Nasional, adalah apa yang dapat disumbangkan oleh seorang untuk agama, negara dan bangsa,” ucap Tohir.

Santri bukan lagi komunitas sosial pinggiran. Peringatan Hari Santri harus mampu memosisikan santri dalam peran-peran penting pembangunan. Jika demikian, maka para santri harus mampu istropeksi diri dan menata kembali SDMnya.

Jika resolusi jihad telah mendorong ribuan santri merapat ke Surabaya sehingga yang menghancurkan mental tentara Inggris, rela berkorban nyawa dan berkalang tanah. “Lalu, apakah yang dapat diberikan oleh santri atau bagi yang baru belajar menjadi santri? Untuk itu, yang patut diperhitungkan adalah setelah selesai hari Santri Nasional ini, apa yang bisa dilakukan?,” kata Tohir sembari bertanya.

Menurut Tohir, santri itu merupakan para intelektual religius, yang harus mampu bertarung dengan perubahan jaman dengan profesionalitasnya dan menjadikan akhlakul karimah sebagai baju kebesarannnya.

“Di sini, sekarang ini, saat kita berdiri, mungkin dulu ada seorang santri sedang terkapar, menjerit, berdarah-darah dan meregang nyawa (naza’) karena tertembus peluru. Lalu, apakah kita cuma diam saja. Apakah kita cuma mengenangnya dengan mengadakan acara-acara sebatas seremonial saja,” tanya Tohir.

Tohir menjelaskan, fenomena antusiasme masyarakat Muslim umumnya, dan Nahdliyin khususnya ini patut dibanggakan, kendati ada beberapa penolakan dari tokoh ormas lain tentang ide Hari Santri. Namun, penolakan tersebut ternyata telah disikapi oleh para santri dengan tak terpancing untuk membalas dengan kasar atau kekerasan.

“Santri memang seharusnya mampu menjunjung kesantunan sebagai ekspresi sosialnya. Ingatlah Satlogi Santri, yaitu S: Santun, A: Ajeg/istiqomah, N: Nasehat, T: Tawakal, R: Ridhallah, dan I: Ikhlas,” terang Tohir

“Terlalu murah nyawa dan jihad mereka jika kita bayar hanya dengan acara seremonial. Untuk itu, kita harusnya mampu mengaktualisasikan ‘resolusi jihad’ dalam kehidupan kekinian yang lebih nyata. Misalnya, bagaimana peran ‘jihad’ kita masalah asap dan problem-problem masyarakat lainnya,” imbuh Tohir.

Tohir mengaku bahwa JQH NU Provinsi Jawa Timur sendiri menyambut Hari Santri Nasional yang pertama tahun ini dengan menghelat Khotmul Quran Bersama di Musholla PWNU Jawa Timur yang dihadiri oleh para Kiai dan Huffadz. (Moh Kholidun/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: