Ikamaru Jakarta Gelar Takhtiman Al-Qur’an Berjamaah

Tangerang Selatan, Bedug dan Azan Maghrib masih cukup lama. Namun, sayup-sayup terdengar Al-Quran mengalun pelan dari salah satu sudut di bilangan Ciputat. Tepatnya di markas alumni Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan-Trangkil-Pati cabang Jakarta di Jalan SD Inpres No 70 C, Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, Ahad (28/6) sore.

Rupanya, puluhan alumnus Pesantren Guyangan yang melanjutkan kuliah di Jakarta sedang menghelat takhtiman Al-Quran bin-nadhar berjamaah. Ramadhan 1436 H ini memang menjadi momen penting. Selain sebagai wahana memperkaya diri dengan ibadah individual, juga bisa mendatangkan inspirasi melalui ibadah sosial. Salah satunya silaturrahim antargenerasi alumni.

Menurut Ketua Ikatan Keluarga Alumni Madrasah Raudlatul Ulum (Ikamaru) cabang Jakarta Sugeng Riyadi, kegiatan tersebut tidak hanya sekedar menjalankan program. Namun sekaligus menjadi sarana silaturrahim berbagai angkatan.

“Yang hadir malam ini tidak hanya yang masih kuliah S1 di kampus UIN. Namun, juga ada beberapa kakak kelas alumni 2006 hingga 2009 yang lanjut S2 di beberapa kampus seperti Universitas Indonesia, Institute Ilmu Al-Quran, dan Universitas Nahdlatul Ulama Jakarta,” tutur Riyadi.

Selain itu, ada juga beberapa alumni yang kebetulan sedang ada kegiatan di ibukota. “Ini juga ada alumnus 2007 yang sedang S2 di Jogja. Tapi lagi ada acara di Jakarta. Jadi, bisa silaturrahim ke sini. Sebagai sesama perantau, kami mengisi dahaga jiwa dengan kumpul-kumpul seperti ini,” tambahnya.

Riyadi sangat bersyukur lantaran banyak kakak kelasnya yang meluangkan waktu untuk silaturrahim. Selain bisa berbagi ide dan cerita, mereka juga berdiskusi hingga fajar menjelang. “Meski kami biasa begadang, tapi malam ini betul-betul spesial karena banyak senior yang hadir,” ujarnya bangga.

Suasana bahagia terlihat di wajah-wajah alumni pesantren yang didirikan Almaghfurlah KH Suyuthi Abdul Qadir tersebut. Nur Fadlan, alumnus 2006 yang juga lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya kala bercengkerama dengan sesama alumni.

“Suasana ini persis ketika kami mondok di Guyangan dulu. Selama lima tahun di Mesir, situasi seperti ini tetap kami jaga. Di sana, kami tahlilan, takhtiman, dan berjanjengan kayak di pondok dulu. Begitu pulang ke Indonesia, ternyata masih bisa saya dapatkan di sini. Di mana-mana santri itu sama yaa,” ujar peraih Beasiswa LPDP untuk S2 di UI Salemba ini.

Fadlan banyak memberikan informasi penting seputar organisasi dan peluang mencari beasiswa. “Saya ingin teman-teman alumni tidak puas belajar di UIN. Kita harus berani dan percaya diri bahwa kita bisa. Apalagi kita pernah mondok. Yang kangen pondok, ayo mondok lagi. Yang belum pernah mondok, ayo mondok,” katanya.

Ahmad Musthofa Harun menambahkan, alumni pesantren yang kuliah bisa turut ambil bagian di berbagai posisi strategis. “Di pondok kita kan sudah kenyang dengan pengalaman dan tempaan hidup. Dengan kuliah, keilmuan kita makin matang. Kalau ada yang bilang selembar kertas ini (ijazah-red) nggak penting, kenapa diomongin. Lha wong nggak penting kok dibahas,” seloroh alumnus UGM ini disambut tawa teman-temannya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: