Ini Besar Omset Para Pedagang dan Ojek selama Muktamar NU

Jombang, Muktamar Ke-33 NU, Perhelatan akbar 5 tahunan yang berlangsung di Jombang, Jawa Timur 1-5 Agustus 2015 tidak saja memberikan manfaat kepada peserta Muktamar, namun masyarakat dan ratusan pedagang yang membanjiri arena Muktamar dengan meraup keuntungan cukup signifikan. Omset penjualan dan pendapatan mereka berlipat-lipat. 

Seperti dituturkan Siska Lukitasari, yang membuka stand kuliner yang digelar Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) di halaman SMA 1 Jombang, persis di depan alun-alun Jombang. Kepada NU Online Rabu (5/8), omset penjualannya rata-rata Rp 2,5 hingga Rp 3 juta perhari. 

Di luar Muktamar, omset penjualannya hanya berkisar rata-rata Rp 280.000-an per hari. Selain menjaul jamu, juga berbagai makanan ringan dan minuman lainnya. Termasuk makanan yang diproduksi oleh Komunitas Jombang Kuliner seperti es Otiek yang dikembangkan  Niken Ari Riswanti.

“Selama Muktamar NU, sejak pagi hingga pukul 22.00 WIB. Dari sisi harga, memang ada kenaikan tarif 40 persen dibanding hari biasa,” kata Siska Lukitasari, yang  juga Bendahara Komunitas Jombang Kuliner di Facebook yang memiliki anggota 38.000 orang.

Menurut Siska, Mbok Jamu merupakan minuman tradisional dengan berbagai rasa seperti beras kencur, sinom, kunyit asem, jahe secang, sari rempah blambangan, temulawak, gepyok, kunci suruh. “Khusus Mbok Jamu, sehari bisa terjual 20-30 botol,” kata Siska.

Ojek becak pun merasakan peningkatan pendapatan. Parlin (40) yang sudah 15 tahun berprofesi sebagai  ojek becak, mengakui jasa ojeknya laris. “Hari-hari biasa dapat Rp 50.000 saja sulit. Tapi pada muktamar ini sehari bisa mencapai Rp 200.000. Di hari pertama pembukaan Muktamar, banyak peserta yang manfaatkan becak karena tidak tahu lokasi. Dari alun-alun ke Tebuireng misalnya, tarifnya bisa mencapai Rp 70.000.

Sedangkan Wajik (30) ayah satu anak ini memanfaatkan Muktamar NU ini dengan menjual buku-buku Islam, bernuansa  ke-NU-an,  amaliah NU dan serangan terhadap amaliah NU. Diantara buku yang dipajang, buku yang bertemakan ajaran Wahabi dan serangan terhadap ibadah-ibadah yang dibid’ahkan oleh kelompok tertentu banyak diminati pengunjung. Banyak pengunjung dari Sulawesi Selatan yang membeli kedua tema buku. Alasannya, di sana sedang marak-maraknya penyebaran paham Wahabi.

“Jadi mereka ingin tahu apa sesungguhnya paham Wahabi sehingga bisa menangkal paham tersebut. Karena di sana mereka sulit mendapatkan bahan bacaan terkait paham Wahabi,” kata Wajik yang sebelumnya pernah bekerja di Kalimantan di sebuah restoran. Karena dilarang ayahnya kembali ke Kalimantan dan kini tengah menemani isteri yang baru melahirkan di Jombang.

Dari pantauan NU Online sepanjang Selasa (4/8) malam, seputaran alun-alun Jombang ini dipadati pedagang kali lima yang menjual berbagai jenis dagangan. Ada pakaian, buku-buku Islam dan NU, mainan, pijit refleksi, makanan, alat-alat rumah tangga, kebutuhan ibu-ibu rumah tangga dan lain sebagainya. Barang-barang yang dijual selain bertemakan muktamar yang menjadi buruan peserta muktamar. Juga terlihat parkir kendaraan di setiap jalan di seputaran alun-alun dengan tarif Rp 5.000 per kendaraan.  

“Saya pesan baju ini bergambar dan bertulisan muktamar NU ini sebagai oleh-oleh bagi sahabat yang tidak sempat hadir ke sini. Selain baju, ada juga pin dan logo NU untuk dibagi-bagikan kader NU di daerah,” tutur Zoni pengurus cabang NU di Sumatera Barat. (Armaidi Tanjung/Fathoni) 

Keterangan foto: Siska Lukitasari tengah memperlihatkan Mbok Jamu, Minuman Tradisional di stand-nya yang berada di depan SMA 1 Jombang.

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)