Ini Dua Golongan Pendusta Agama

Kudus, NU Online
KH Abdul Qodir mengingatkan kepada umat Islam untuk kembali menanamkan akhlak mulia. Juga jangan terlalu menitikberatkan pada harta benda dan kemegahan duniawi karena akibatnya tidak akan begitu mengurusi agama.

“Maka, di Ramadhan ini kita ketuk pintu hati ini untuk kembali menanamkan akhlak mulia. Sebab, orang yang berakhlak mulia adalah orang yang mengimbangkan kepentingan dunia dan kepentingan agama,” tuturnya saat mengisi tausiyah dalam peringatan Nuzulul Qur’an yang diadakan oleh Pemerintah Daerah kabupaten Kudus, di Alun-Alun Simpang Tujuh, Rabu (1/07) sore.

Penceramah yang dikenal dengan sebutan kiai Gali itu menjelaskan untuk mengetuk hati, dapat dengan mengingat ayat-ayat Allah, baik yang tersirat maupun tersurat. Setiap malam Ramadhan misalnya, dikumandangkan ayat-ayat Allah di setiap masjid, musholla.

“Saat ini di tengah Alun-Alun Simpang Tujuh, kita mulai membaca ayat Allah yang tersirat. Siapa? Anak-anak yatim dan fakir miskin. Allah mengetuk kita; araital ladzi yukadzdzibu bid din. Siapakah pendusta Agama itu?” terangnya dalam kegiatan yang dihadiri oleh Bupati Kudus itu.

Kiai Gali memaparkan, yang dimaksud pendusta agama bukanlah orang nonmuslim, bukan orang kafir, bukan ateis, tetapi yang dituding pendusta agama adalah orang yang sekarang mengaku iman, mengaku Islam, namun tidak peduli terhadap anak-anak yatim.

“Jangan mengaku Islam kalau kita tidak peduli terhadap anak yatim,” tegas dia mengingatkan pentingnya umat Islam menyantuni anak yatim.

Lalu yang kedua, lanjut KH Abdul Qodir, orang yang tidak menafkahkan hartanya kepada orang miskin. Sekarang sebaliknya, banyak di antara masyarakat makan harta yang seharusnya untuk orang miskin.

“Sehingga Allah telah mengingatkan bahwa jangan ribut masalah dunia. Harta benda yang kita kumpulkan itu tipuan belaka.

Dalam acara tersebut Pemda kabupaten Kudus memberikan santunan kepada puluhan anak yatim. Sebelumnya, acara yang bekerjasama dengan Baznas kabupaten Kudus dan PT Wingsfood itu juga digelar lomba Rebana Al-Banjari, musik tongtek dan Hijab (M. Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: