Ini Jejak Sejarah Laksamana Cheng Ho Menurut Intelektual Tiongkok

Jakarta, Intelektual Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang juga Guru Besar Universitas Nanking, Jiangsu, Tiongkok, Profesor Chi Min Tan hadir dalam acara Seminar Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara, Selasa (28/7) di Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta. Dia memaparkan identitas Cheng Ho serta mengapa dirinya harus melakukan ekspedisi maritim ke seluruh penjuru dunia, terutama di Nusantara.

Menurutnya, ekspedisi Cheng Ho merupakan prestasi yang luar biasa di zamannya. Selama 38 tahun lamanya, yaitu dari 1405 hingga 1433 M, ia dengan sadar maupun tidak telah mengembangkan ilmu teknik navigasi yang saat ini mempunyai pengaruh sangat besar di dunia.

Profesor Tan juga mengungkapkan, bahwa Cheng Ho sebenarnya bermarga Ma, dengan nama Ma Ho. Leluhurnya pernah menjadi pejabat tinggi di Sinnan. Menurut keterangan yang ada, ia lahir pada tahun 1382 M. 

“Dia juga pernah mengikuti pelatihan militer. Ma Ho cukup berjasa untuk negara sehingga Kaisar memberi dirinya gelar Cheng. Bergantilah namanya menjadi Cheng Ho. Dia pun pernah diangkat menjadi Kasim, jabatan paling tinggi saat itu,” jelas Prof Tan yang mengatakan bahwa Cheng Ho menghembuskan napas terakhirnya di India.

Catatan Marcopolo

Sementara itu, pakar Islam Nusantara, Agus Sunyoto menegaskan, bahwa Cheng Ho merupakan tokoh legendaris, baik di Nusantara maupun di negeri asalnya. Agus menerangkan, sebetulnya masyarakat muslim tionghoa sudah ada sebelum Cheng Ho datang ke Nusantara. 

“Hal ini berdasarkan catatan yang dibuat pelaut asal Italia, Marcopolo yang saat itu mempunyai pertalian erat dengan Kubilai Khan,” ujar penulis buku Atlas Wali Songo tersebut.

Marcopolo mencatat, lanjut Agus, penduduk pribumi di Perlak, Aceh tahun 1292 M yang merupakan warga keturunan Tionghoa sudah masuk Islam. Kemudian, imbuhnya, saat Cheng Ho pertama kali datang di Nusantara, yaitu di Tuban. Di daerah tersebut, ia menemukan komunitas Tionghoa beragama Islam.

“Dalam ekspedisinya ke Nusantara, Cheng Ho juga pernah berhadapan dengan muslim Tionghoa garis keras yang pekerjaannya menjadi perompak dan penjarah, sehingga ia pun memberikan perhatian kepada anak buahnya agar sampai terpengaruh oleh muslim Tionghoa namun ekstrim tersebut. Jadi, Islam garis keras dan ekstrimis itu, sejak zaman dulu sudah tumbuh,” papar Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya Malang Jawa Timur ini. (Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: