Ini Sebab Tradisi Halal Bihalal Jatuh di Bulan Syawal

Kudus, Mustasyar PBNU KH M Sya’roni Ahmadi menjelaskan landasan umat Islam khususnya di Indonesia melaksanakan tradisi Halal Bihalal di bulan Syawal, sejak dulu dan berlangsung sampai sekarang.

“Ketika itu Rasulullah mengadakan pembebasan (istihlal) kepada kelompok kafir Quraisy Mekah bertepatan pada tanggal 1 Syawal,” jelasnya saat mengisi mauidhoh hasanah di acara Halal Bihalal Ikatan Alumni Madrasah Qudsiyyah (IKAQ), Kudus, Jawa Tengah, Kamis (30/07) siang.

Kiai Sya’roni melanjutkan saat itu Rasulullah memimpin pasukan, bersama Mu’adz Ibn Jabal, Khalid Ibn Walid, sekitar 10 hari akhir pada bulan Ramadhan. Nabi Muhammad berpidato, “Saya minta pasukan-pasukan bisa menguasai Masjid al-Haram, saya batasi tanggal 1 Syawal.”

Ketika Rasulullah dan para sahabatnya sudah bisa menguasai Mekah pada tanggal 1 Syawal, Rasulullah mengumumkan 3 macam ketentuan. Pertama, barang siapa yang meletakkan senjatanya, maka aman. Kedua, barang siapa yang masuk ke dalam masjid, maka aman. Ketiga, barang siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, maka aman.

“Ini bahasa-bahasa mantiqi atau kalau sekarang bisa disebut bahasa politik,” tutur Nadhir Madrasah Qudsiyyah itu.

Ia mengungkapkan kafir Mekah pada waktu itu dipimpin Abu Sufyan. Sedangkan Abu Sufyan sendiri adalah keturunan Abdi Manaf. Ketika seorang pimpinan (kafir) disebut oleh Rasulullah, lalu disamakan (disandingkan) dengan masjid, para pengikut Abu Sufyan pada tunduk dan merasa lega atas pengumuman Rasulullah.

“Ini taktik Kanjeng Nabi yang sangat luar biasa. Beliau tidak menggunakan taktik-taktik (ala) para Raja ketika menaklukkan suatu wilayah lain, mesti membuat kerusakan, dan biasanya membantai semua yang ada di dalamnya. Justru Rasulullah menyetarakan rumah Abu Sufyan dengan masjid,” ujarnya.

Kiai Sya’roni menirukan isi pidato Rasulullah, “Wahai bangsa Quraisy, kalian Qaraisy, saya juga Quraisy. Wahai keturunan Abdi Manaf, kalian keturunan Abdi Manaf, saya pun keturunan Abdi Manaf. Kira-kira saya hendak berbuat apa?”

“Abu Sufyan menanggapi: ‘Kamu pasti akan berbuat kebaikan kepada kita, karena merupakan adalah orang baik, keturunan orang baik’.” Lalu Nabi menjawab, “Semuanya bebas”.

Kafir Mekah dibebaskan semua oleh Rasulullah, tanpa balas dendam atas tindak-tindakan yang sebelumnya sudah dilakukan kepada Nabi dan para sahabatnya.

“Jadi kalau ingin mempersatukan, bahasanya harus diatur dengan halus, jangan asal-asalan,” pintanya.

Lebih lanjut, dahulu Kiai Sya’roni Ahmadi pernah membandingkan Nabi Muhammad dengan Raden Syahid Sunan Kalijaga yang membuat Gong Sekaten.

Raden Syahid mahir sebagai dalang. Dia tidak mau memulai pewayangan sebelum Gong ditabuhkankan, Gong tidak akan ditabuh sebelum orang-orang yang hadir di tempat itu mengucapkan Syahadat. Akhirnya banyak orang mengucapkan Syahadat dari siasat Sunan Kalijaga.

“Dulu saya pernah berfikir lebih hebat Sunan Kalijaga yang bisa sampai membuat banyak orang mengucapkan Syahadat. Tapi sekarang tidak, Rasulullah lebih hebat, sebab ada tekanan untuk masuk Islam sebagaimana siasat Sunan Kalijaga tadi,” ungkap Kiai Sya’roni.

Ia menilai, upaya Sunan Kalijaga kemungkinan bisa menjadikan orang masuk Islam, tetapi hanya luarnya saja. “Sedangkan siasat Rasulullah, kafir Mekah berbondong-bondong masuk Islam tanpa tekanan,” terangnya. (M. Zidni Nafi’/Anam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)