Inilah Pesan Habib Umar Bafaqih untuk Santri di Margoyoso

Jepara, NU Online
Habib Umar Bafaqih berkesempatan rawuh dalam Haflah Attasyakur Lil Ikhtitam pesantren Roudlotul Huda ke-41 dan Roudlotul Hidayah ke-22 desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Rabu (03/06) malam. Dalam kesempatan ini Habib Umar menyampaikan sejumlah pesan kepada santri. 

Pertama, menjadi santri harus jujur dalam keadaan apapun. Habib yang tinggal di Purwokerto ini mencontohkan Syekh Abdul Qadir yang kemudian dijuluki Sultanil Auliya. Sebutan ini disandang Abdul Qadir lantaran ia merupakan sosok yang jujur.

Ceritanya suatu ketika Syekh Abdul Qadir dibegal di tengah jalan ketika hendak menuntut ilmu. Saking jujurnya uang emas yang dibawanya ditunjukkan kepada kedua pembegal tersebut kemudian membuat penjahat tersebut takjub dan memohon kepada syekh menjadi muridnya.

Kedua, dalam menuntut ilmu harus dengan rizki yang halal.

Tentang kisah halal Imam Syafii pernah mengalami kendala dalam menghafalkan. Selidik punya selidik Syafii bertanya kepada ibundanya. Ternyata, saat ia masih berusia 5 tahun ibunya tidak sengaja mengambil bubur milik tetangganya dan belum meminta izin.

Kemudian, lanjut Habib, dicarilah ibu tersebut sampai ketemu dan meminta maaf atas khilaf yang telah diperbuat ibunda Syafi’i.

Pandai
Habib yang mengawali mauidhohnya dengan shalawat diiringi rebana Al-Mubarak ini menegaskan jika melaksanakan kedua hal ini santri akan menjadi generasi yang pandai. Pernyataan ini tidak lepas dari sepak terjang pendiri bangsa ini.

Orang Islam Indonesia sebutnya mampu membuat usulan untuk Saudi Arabia dan masih berlangsung hingga saat ini. Tetapi Orang Arab belum pernah menyampaikan usulan yang bisa di rasakan sampai sekarang.

“Waktu itu presiden Soekarno menyaksikan lokasi untuk Sa’i semakin meluap. Jika dibiarkan akan menelan banyak korban. Sehingga Soekarno mengusulkan agar lokasi Sa’i ditambah lokasinya,” jelasnya.

Alhasil usulan ini disetujui Raja Arab dan masih bisa dirasakan hingga sekarang. Hal lain yang pernah diusulkan Soekarno ialah padang Arafah yang panas kemudian ia usul agar ditanami pohon. Sehingga saat itu ditanamilah pepohonan yang tidak ada di sana. Oleh orang Arab pohon ini dinamakan Sajarah Soekarno.

Tidak hanya Soekarno, KH Hasyim Asyari prihatin Arab Saudi saat itu dikuasai Wahabi. Karena masih sendiri tidak memunyai jamaah yang kuat, Hadratus Syekh kembali ke Indonesia untuk menyusun strategi agar aksi busuk Wahabi bisa dihentikan.

Alhasil Hasyim Asyari menyusun kekuatan bersama ulama Jawa Timur dan mendirikan jamiyyah NU. Dengan berpijak pada pendiri bangsa ia mengajak agar santri jangan sampai bodoh dan kuper, harus belajar dan terus belajar. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: