Inilah Pesan Ketua MWC NU Gadingrejo untuk Para Pemimpin

Pringsewu, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, KH Agus Kholik berpesan kepada setiap orang untuk tidak berambisi dalam mendapatkan jabatan. Menurutnya, sebuah jabatan tidak boleh diserahkan kepada orang yang meminta-minta jabatan tersebut, terlebih ketika orang tersebut tidak memiliki kompetensi atau kemampuan dalam memimpin.

Bagi Agus malik, memimpin adalah suatu tugas yang berat dan berhubungan dengan tanggungjawab. “Etika kepemimpinan yang paling pokok adalah tanggung jawab. Tanggung jawab di sini bukan semata-mata melaksanakan tugas. Namun lebih dari itu seorang pemimpin harus berupaya mewujudkan kesejahteraan bagi yang dipimpinnya,” tambahnya ketika mengisi acara Jihad Pagi (Mengaji Ahad Pagi) di Gedung NU, Ahad (13/12/15).

Haji Agus, demikian biasa ia dipanggil, juga mengimbau kepada semua pemimpin untuk mengedepankan kejujuran dalam melaksanakan tugas. Ia melihat di zaman sekarang kejujuran pemimpin sudah jarang ditemukan. “Sering slogan ‘kalau jujur ajur (hancur)’ digunakan. Padahal sebaliknya jika pemimpin yang tidak memiliki kejujuran maka akan seperti bangunan yang tanpa pondasi. Kelihatan megah namun rapuh dan tidak bertahan lama alias cepat hancur,” tegasnya.

Selain kejujuran, seorang pemimpin harus memberikan teladan yang baik kepada yang dipimpinnya. Hal ini dapat diwujudkan dalam bentuk kebijakan dan keputusan yang tidak menipu, melukai, dan mezalimi yang dipimpin. “Pemimpin yang zalim diharamkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menginjakkan kaki di surga,” tuturnya.

Ia juga berpesan kepada seluruh pemimpin untuk tidak arogan, elitis, represif dan terlalu birokratis atau mempersulit urusan urusan rakyatnya. “Contohnya dalam pemerintahan, untuk mengurus pembuatan KTP, akta kelahiran dan sejenisnya, terkadang melalui tahapan yang rumit makan waktu dan terkesan dipersulit dengan alasan mekanisme dan peraturan,” katanya.

Padahal, menurutnya, dalam banyak hadits disebutkan bahwa seorang pemimpin harus memberikan pelayanan yang maksimal serta tidak menyulitkan orang yang dipimpinnya. “Jika bisa dipermudah kenapa harus dipersulit. Jika pemimpin suka mempersulit urusan yang dipimpinnya maka Allah akan mepersulit segala urusannya baik didunia maupun di akhirat,” imbuhnya.

Dan ketika pemimpin dapat menjalankan tugas-tugasnya sebagai pemimpin dengan baik maka Allah sudah menyiapkan imbalan baginya berupa posisi yang mulia. “Rasulullah menggambarkan posisi ini berupa mimbar yang terbuat dari cahaya. Yang dimaknai sebuah tempat yang tinggi dan terhormat di sisi Allah subhanahu wata’ala,” pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)