IPNU Jatim Deklarasikan Gerakan Pelajar Antidadikalisme dan Narkoba

Surabaya,
Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Jawa Timur menyatakan gerakan pelajar antiradikalisme dan narkoba. Deklarasi ini merupakan respon sekaligus langkah antisipasi merebaknya radikalisme yang belakangan mulai menyasar kalangan pelajar.

Ketua IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami mengatakan, deklarasi pelajar antiradikalisme dan narkoba didasarkan pada kegelisahan melihat fenomena mutakhir yang cukup memprihatinkan. Banyak masyarakat tak berdosa turut menjadi korban akibat radikalisme yang terus tumbuh hingga di tataran pelajar. Begitu pula akibat narkoba, tiap harinya tunas bangsa gugur percuma.

“Kita jelas bertekad bulat melawan segala bentuk radikalisme dan peredaran narkoba yang ada di dunia pendidikan. Mengingat jaringan radikalisme dan narkoba yang berkembang di luar negeri maupun yang sedang tumbuh di Indonesia sudah mulai masuk ke nadi-nadi dunia pendidikan. Baik SMA maupun perguruan tinggi,” katanya usai Pelantikan dan Rapim PW IPNU di Hall PWNU Jatim, Ahad, (29/11).

Dalam waktu dekat, tutur Haikal, pihaknya akan menggalang dukungan dari seluruh sekolah dan perguruan tinggi di Jawa Timur untuk bersama-sama menyatukan komitmen memerangi radikalisme. Pelajar dan mahasiswa NU didorong untuk menjadi pelopor dalam mengampanyekan semangat anti radikalisme.

Masalah yang juga perlu mendapatkan perhatian serius menurut Haikal adalah persoalan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. Apabila tidak dilakukan penanganan serius maka masa depan generasi muda sangat terancam. “Aset terbesar bangsa Indonesia adalah pemuda, mereka harus dilindungi. Jangan sampai tergoda oleh narkoba,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman mengatakan strategi preventif sejak dini memang perlu dilakukan terutama bagi generasi muda. Penanaman nilai-nilai keagamaan dan kebangsaaan di sekolah mulai dari pendidikan dasar hingga menengah turut memberikan dampak positif terhadap upaya menghadang radikalisme.

“Pesantren dan sekolah-sekolah NU bersama pemerintah Jawa Timur selama ini cukup banyak bekerja sama meningkatkan kualitas pendidikan. Termasuk untuk menghadang radikalisme, tidak hanya di kalangan internal namun ke depan kampanye antiradikalisme lebih gencar dilakukan di masyarakat secara luas,” terangnya.

Radikalisme, menurut Saiful, di antara penyebab yang paling berpengaruh adalah karena memahami agama secara literal dan semakin gencarnya penyebaran paham-paham yang mengarah pada radikalisme melalui media sosial. Untuk itu, diharapkan IPNU dapat menjadi garda terdepan menanamkan sikap toleransi dan keberagaman di masyarakat.

Masih menurut Saiful, untuk menghindari radikalisme yang semakin mengkhawatirkan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Tentu diperlukan stakeholder untuk membentengi masing-masing anggota keluarga dari godaan radikalisme. “Guru agama di sekolah-sekolah dalam mengajarkan Islam harus proporsional dan komprehensif. Sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang keliru,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tinggal menghitung hari. IPNU sebagai representasi mayoritas pelajar di Jawa Timur hendaknya dapat menyiapkan diri dengan mengasah kompetensi masing-masing. Sehingga anggapan bahwa masyarakat Jatim akan menjadi penonton saat MEA jelas terbantahkan.

Deklarasi Pelajar Jatim antiradikalisme dan anti narkoba diikuti sebanyak 300 peserta dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur. Bersamaan dengan acara ini juga dilakukan Penandatangan MoU antara Dindik Jatim dan BNN Jatim dengan IPNU Jatim terkait kerja sama menolak radikalisme dan narkoba di dunia pendidikan. Deklarasi juga dihadiri Ketua DPRD Jatim Halim Iskandar, BNN Provinsi Jatim Sutrisno, Ketua PWNU Jatim Mutawakkil Alallah dan Ketua Pengurus Pusat IPNU Khoirul Anam Harisah. (Lukman Hakim/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: