IPNU Surabaya: Jangan Anggap Bodoh Pemilih Pemula

Surabaya, Ketua Pimpinan Cabang IPNU Surabaya Agus Setiawan mengingatkan kepada para pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota agar tidak menganggap bodoh pemilih pemula. Berdasarkan data dari KPU Kota Surabaya, pemilihan kepala daerah (Walikota) tahun 2010 menunjukkan jumlah pemilih terdaftar sebesar 2.145.263, dengan tingkat partisipasi sebesar 43,46 persen. Dari jumlah tersebut, terdapat pemilih pemula sebesar 8,6 persen.

Sedangkan berdasarkan populasi penduduk, data pemilih pemula secara nasional untuk Pileg dan Pilpres 2014 sebesar 20 persen dari total DPT. Sedangkan data pemilih pemula di Kota Surabaya untuk pemilu legislatif 2014 adalah 3,98 persen dari total jumlah pemilih. Data pemilih pemula di kota Surabaya untuk pemilu presiden 2014 sebesar 4,17 persen dari total jumlah pemilih.

Hal ini mengindikasikan bahwa pemilih pemula akan memegang peranan strategis jika masing-masing pemangku kepentingan mampu mengoptimalkan peran serta pemilih pemula, plus ada kesadaran dan pengetahuan bersama pada pemilih pemula akan pentingnya pemilihan kepala daerah.

Menurutnya, pendidikan politik dan sosialisasi tentang pemilihan kepala daerah penting dilakukan bagi pemilih pemula, mengingat selama ini partai politik hampir hampir tidak pernah menjalankan fungsinya sebagai penyelenggara pendidikan politik bagi masyarakat, lebih-lebih untuk anak muda.

“Bahkan partai politik lebih sering memanfaatkan mereka (remaja dan pemilih pemula) sebatas hanya untuk hura-hura politik, seperti pengerahan massa dan konvoi,” kata Agus.

Oleh karena itu, IPNU Surabaya bekerja sama dengan berbagai pihak, antara lain dengan KPU Kota Surabaya sudah dan menggelar Sosialisasi Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Surabaya tahun 2015, Sabtu (31/10) siang di aula Kampus A Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Jalan SMEA No 57 Surabaya. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi pemilih pemula atau anak muda di Surabaya, Jawa Timur.

Selain itu, bersama organisasi yang sejajar yakni Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Putri NU dan Pelajar Islam Indonesia, IPNU akan menggalang sinergi untuk menyelamatkan pemilih pemula dari pembodohan politik.

“Jangan sampai para pemilih pemula ini tidak menentukan pilihan secara otonom dan sadar. Tapi mereka perlu diajak untuk benar-benar sadar hak dan pilihannya, agar tidak gampang diajak untuk sekedar konvoi motor dan menjadi massa bayaran saat kampanye,” kata Sekretaris PC IPNU Surabaya Harun Rosyid.

Tidak jauh berbeda dari tahun 2010, pemilihan Walikota Surabaya 2015 yang dilaksanakan secara langsung, akan menempatkan kembali posisi pemilih pemula pada tempat yang strategis. Kerja sama antara pemerintah daerah, partai politik, dan penyelenggara pemilihan secara sinergis diperlukan dalam rangka optimalisasi peran serta pemilih pemula sehingga tingkat partisipasi pemilih pada pemilihan kepala daerah tahun 2015 bisa ditingkatkan.

Menurutnya, jumlah pemilih pemula (anak muda) di Surabaya yang lumayan besar pasti akan menjadi sasaran penggalangan suara oleh semua pasangan calon Walikota dan Walikota yang ikut dalam kontestasi Pemilihan Walikota Surabaya tahun 2015.

Untuk itu, PC IPNU Surabaya menyerukan kepada pasangan calon yang ikut dalam kontestasi Pemilihan walikota dan wakil walikota Surabaya tahun 2015 ini agar dalam menarik perhatian para pemilih pemula Surabaya, harus menggunakan strategi yang berbeda, jangan sampai mengandung unsur penipuan dan kemasan yang tidak mendidik, melainkan harus dalam bingkai dan pola pendekatan yang elegan, mencerahkan, dan mencerdaskan. (Red: Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: