Jangan Berpendapat atas Dorongan Nafsu dan Ego Kelompok

Pringsewu, Hilangnya makam tokoh Muhammadiyyah, Ki Bagus Hadikusumo, di Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta, dapat menjadi pelajaran bagi seluruh umat Islam akan perlunya ziarah kubur. Makam tokoh ormas Islam tertua di Indonesia yang ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada 5 November 2015 ini hilang setelah tidak dirawat dan diziarahi.

Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri baik dari kalangan Ormas Muhammadiyah maupun ormas lain. Sehingga Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan ziarah kubur itu perlu dilakukan sebagai bentuk menghargai tokoh atas jasa-jasanya selama hidupnya.

Menanggapi hal ini, Ustadz Jumangin, Ketua MWCNU Ambarawa Pringsewu Lampung, mengingatkan agar hal ini tidak boleh terulang lagi. Di samping sebagai bentuk ibadah untuk mengingatkan akan kematian, ziarah kubur juga dapat digunakan sebagai cara untuk mengenang atau meneladani perilaku baik ahli kubur.

Lebih lanjut ia mengingatkan bahwa di zaman sekarang ini, banyak orang yang berpendapat untuk meninggalkan suatu ibadah seperti ziarah kubur, bukan berdasarkan atas faktor hukum syar’i. Namun sering kali orang berpendapat berdasarkan faktor ego kelompok masing-masing.

“Jika kita memiliki pendapat hendaknya didasarkan atas panggilan iman. Bukan karena nafsu dan ego pribadi atau kelompok. Contohnya kalau ada suatu hal yang tidak berasal dari pimpinannya maka hal itu tidak benar dan yang lain dianggap salah,” katanya ketika mengisi Jihad Pagi di Gedung NU Pringsewu, Ahad (22/11/15).

Ia memberikan contoh lain pendapat yang didasari nafsu seperti beberapa kelompok yang menyalah-nyalahkan amaliah orang lain dengan slogan “kembali kepada Quran dan Hadits”. “Kalau slogannya tidak salah. Namun dalam memahami al-Qur’an juga diperlukan ahlinya yaitu para ulama. Tidak bisa kita langsung menafsirkan sendiri,” tegasnya.

Orang yang terlalu kaku ini, lanjutnya, sudah masuk dalam kategori sombong karena menganggap penafsiran merekalah yang paling benar. Mereka tidak melihat aspek-aspek lain seperti peran ulama dan silsilah keilmuan dalam hal ini dalam bentuk ijma dan Qiyas.

Oleh karena itu, Jumangin mengingatkan agar senantiasa menanamkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah kepada generasi penerus sebagai upaya membentengi warga terhadap paham paham baru yang dilandasi nafsu dalam berpendapat dan beribadah. “Jika ada yang berkata kembali kepada Quran dan Hadits maka jawab saya setuju. Namun harus melalui para ulama yang jelas silsilah keilmuannya,” pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: