Juara Liga Santri Diperebutkan di Priyangan

Garut,
Ratusan santri dari 10 kota dan kabupaten se-Priangan berkumpul di lapangan Yonif 330 Raider Cibuluh, Garut, Rabu (16/9) pagi. Mereka mengikuti turnamen Liga Santri Nusantara yang baru pertama kali diselanggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga.

Sekertaris Umum Liga Santri Zona 2 Priangan Subhan Romansyah mengatakan, para santri pun memiliki perstasi yang luar biasa dalam olahraga cabang sepak bola. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya para santri yang telah menjadi bintang-bintang nasional.

Pada program awal ini, kata Subhan, akan diselenggarakan pada priode 5 tahun sekali dan akan dibina pada satu tahun sekali di tingkat kabupaten. “Karena ini baru pertama kali diselenggarakan dan nantinya jenjang pembinaan akan lebih mengarah ke seleksi di kota atau kabupaten masing-masing sebelum masuk pada zona ke wilayah,” kata Subhan saat konferensi pers di Yonif 330.

Liga Santri Nusantara sendiri diadakan untuk menjaring bibit-bibit muda. “Hadirnya bibit-bibit muda tidak begitu saja ada, tapi harus ada proses seleksi dan kompetisi yang sehat,” katanya.

Para santri yang memiliki talenta di atas rata-rata nantinya akan dibina, serta khususnya untuk Garut yang memiliki banyak legenda seperti Kang Adeng, Kang Giman, Zaenal Arif legenda Persib merupakan orang pesantren asli Garut.

Kemenpora sendiri banyak menyelengarakan kompetisi dari mulai pelajar, mahasiswa, umum, santri, dan sekarang yang sudah berlangsung banyak menemukan bibit muda sangat potensial.

Untuk zona 2 sendiri ada 12 tim yang mengikuti ajang liga santri ini. Banyak pesantren mendaftarkan diri untuk ikut serta. Hanya saja ada beberapa tim yang lolos verifikasi, dan ada yang tidak lolos.

Kepala dinas Pemuda dan Olahraga Kuswendi menyambut baik turnamen ini. “Saya sangat mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Kami pun akan berusaha melakukan pembinaan secara menyeluruh ke depannya,” tandasnya.

Rais Syuriyah PCNU Garut KH Munir mengatakan memang sarana dan pra sarana olahraga untuk santri sangat minim bahkan hampir tidak ada. “Hampir tidak ada sarana dan prasarana untuk santri. Kalaupun ada di beberapa pesantren modern. Untuk pesantren tradisional, sangat tidak memiliki sarana untuk olahraga. Maka dari itu saya meminta kepada Dispora agar bisa mensupport para santri kita,” paparnya.

Pada pertandingan pertama bertanding tim pesantren Nurul Bayan Pangandaran dan pesantren Musyadadiah yang kemudian dimenangkan oleh Musyadadiah dengan skor 3 – 0. (Rul/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: