Kaki Bayi Menyerupai Huruf O, Normalkah?

Sidoarjo, Kaki merupakan salah satu anggota tubuh yang sangat penting bagi manusia. Selain sebagai alat penyangga berat badan, kaki juga sebagai alat gerak manusia. Dengan kaki manusia mampu bergerak dan berjalan kemanapun. Mengingat begitu pentingnya fungsi kaki, sebagai orang tua harus selalu mengawasi bagaimana tumbuh kembang si kecil termasuk dengan pertumbuhan kakinya.

“Cara berjalan anak balita sangat beragam, salah satu yang paling sering menjadi perhatian para orang tua adalah adanya bentuk kaki “O” pada balita. Bagaimana sebenarnya bentuk kaki “O” pada balita apakah ini suatu bentuk kelainan (penyakit) atau hanya perkembangan normal kaki balita saja?” kata dokter yang bertugas di RSI Siti Hajar Sidoarjo, Yunita Ulindiati, Senin (21/12).

Pada perkembangan kaki bayi masih lentur, lembut dan pada saat dilahirkan kaki bayi memang berbentuk menyerupai huruf “O”, hal itu dikarenakan saat berada dalam rahim ibu, bayi berada dalam posisi meringkuk. Posisi meringkuk itu merupakan bagian penyesuaian janin terhadap rahim ibu yang sempit agar terasa nyaman.

Posisi meringkuk itu sendiri terbawa hingga lahir, sehingga saat bayi lahir kakinya berbentuk “O”. Jadi memang secara fisiologis (normal) bayi memiliki kaki bentuk “O” adalah wajar. Tetapi seiring bertambahnya usia bayi lama kelamaan tulang kaki bayi akan lurus dengan sendirinya pada saat usia 1-2 tahun.

Pada tahun-tahun pertama usia balita adalah masa yang sangat penting untuk perkembangan kakinya dan biasanya orang tua baru menyadari kalau kaki si anak bengkok pada saat anak mulai belajar berjalan.

“Apabila dalam perkembangannya, kondisi kaki yang bengkok tidak berkurang atau malah bertambah bengkok maka bisa jadi mengindikasikan adanya suatu kelainan atau penyakit. Pemeriksaan yang diperlukan untuk melihat apakah kelainan yang terjadi merupakan perkembangan normal atau suatu penyakit dengan pemeriksaan radiologis,” terang Yunita yang bertugas di rumah sakit NU ini.

dr Yunita menjelaskan, ada beberapa penyakit yang memberikan gejala kaki bentuk “O” yaitu, blaunt disease (penyakit blaunt), penyakit riket, tumor, infeksi atau trauma.

Penyakit blaunt atau tibia vara penyakit tulang akibat gangguan pertumbuhan bagian medial epifise dari tulang tibia bagian proksimal. Faktor mekanik yang merupakan penyababnya adalah karena mulai berjalan pada usia dini dan obesitas saat usia 1 tahun. Adanya peningkatan berat badan yang berlebihan dan trauma yang berulang menyebabkan perlambatan pertumbuhan epifise medial (sisi bagian dalam lutut).

Tibia vara atau bow leg merupakan penyebab kelainan kaki bentok “O” patologis yang paling sering.

Sebagai orang tua sebaiknya memperhatikan cara anak berjalan dan jika dalam perkembangannya orang tua melihat cara berjalannya berbeda dengan anak lainnya, maka tidak ada salahnya untuk memeriksakan kondisi tulang kakinya ke dokter spesialis Rehabilitasi Medik, spesialis Orthopedi atau dokter spesialis Tumbuh Kembang Anak.

“Apabila hal itu tidak dilakukan penanganan dengan baik akan terjadi penyakit degeneratif yang berat pada sendi secara dini. Berbagai cara untuk penanganan kondisi ini, tergantung berat ringannya sudut kelengkungannya dari pemasangan brace sampai operasi,” tambah dr Yunita.

Penyakit lain yang memberi gejala bentuk kaki O, lanjut Yunita, yakni penyakit riket yang merupakan penyakit tulang akibat kekurangan vitamin D. Tetapi hal itu jarang ditemukan di Indonesia, mengingat Indonesia merupakan wilayah dengan paparan sinar matahari tinggi yang merupakan sumber vitamin D dan bermanfaat untuk pertumbuhan tulang.

“Jadi ada beberapa patokan untuk evaluasi dan penanganan anak-anak dengan kaki bentuk “O” yaitu bisa sebagai pertumbuhan normal, akan membaik dengan sendirinya pada usia antara 18 bulan-24 bulan dan tidak memerlukan tindakan, mencegah kegemukan, dan tidak memaksakan anak berjalan usia dini, menghindari duduk tailor atau bersila,” jelas Yunita. (Moh Kholidun/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)