Kang Said Persilakan Muslim Eropa Belajar Islam ala NU

Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa pendidikan Islam Indonesia terbuka bagi siapa saja. Orang-orang di belahan dunia manapun, kata pengasuh pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini, bisa melihat dan mempelajari pendidikan agama Islam Indonesia lebih dekat.

Demikian pernyataa Kang Said di hadapan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend melakukan kunjungan ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jumat (06/11).

“Kalaupun imam-imam di Eropa ingin belajar seperti Islam yang kami pelajari, dan yakini, kami tidak pernah keberatan memberikan itu,” kata Kang Said.

Pertemuan yang dijamu langsung oleh Kang Said bersama pengurus teras PBNU. Mereka lebih banyak membicarakan isu-isu perkembangan Islam.

Dalam diskusi kali ini, Kang Said menyebutkan bahwa ada 1.500 lebih muslim Perancis, 400 lebih Muslim Inggris dan Belgia yang bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria atau dikenal dengan ISIS. Itu menjadi sinyal awal bahwa pendidikan tentang pemahan Islam di sana belum tuntas. Kang Said menyayangkan semua itu terjadi.

Sebaliknya, Kang Said mengatakan, NU memiliki lembaga pendidikan tidak kurang 800 ribu pondok pesantren, sekolah, madrasah dan diniyah yang tidak terhitung, serta perguruan tinggi. Semuanya mengajarkan nilai-nilai yang diwariskan para ulama terdahulu mengenai tawasuth (tidak ekstrim), moderat, Tasamuh (toleran), dan amar ma’ruf nahi mungkar yang kemudian menjadi prinsip dasar ber-NU, yang kemudian kita bungkus dengan Islam Nusantara, islam yang menghargai tradisi dan perbedaan.

“Prinsip inilah yang kita jaga dan ajarkan pada kader-kader NU,” pungkasnya.

Sementara Vincent mengatakan, geliat perkembangan Agama Islam di Eropa berjalan pesat. Dibuktikan jumlah pemeluk Islam semakin bertambah. “Kita tidak ingin umat muslim Eropa seperti yang ada di Timur Tengah, saling perang sesama muslim.”

Lebih lanjut, ia mengatakan untuk mencegah itu perlu pemahaman keislaman yang benar. Di Eropa belum ada lembaga pendidikan untuk para imam. “Kalaupun ada juga tidak ada standardisasi yang jelas,” imbuhnya.

Vincent mengapresiasi gerakan Nahdlatul Ulama. menurutnya, selain besar, NU juga aktif di berbagai hal dan juga peduli pada pendidikan dengan pesantrennya.

Sebab itu, kita ingin tahu bagaimana NU mendidik umat Islam yang ada di Indonesia. “Muslim di Indonesia tidak seperti di Timur Tengah, di sini sangat toleran dan menghargai perbedaan,” ujarnya. (Faridur Rohman/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: