Keikhlasan, Warisan Sikap Hidup Para Sesepuh Pesantren

Muntilan, NU Online
Keikhlasan itu bagian dari ciri khas pesantren. Nilai keikhlasan di dunia pesantren bahkan menjadi sesuatu yang hidup dan niscaya. Ikhlas menjadi warisan sikap hidup dari para sesepuh pesantren yang diwariskan secara turun menurun kepada para santrinya hingga sekarang.

“Keikhlasan adalah sesuatu yang niscaya tidak bisa tidak. Keikhlasan selalu tercermin tidak hanya pada santri-santrinya, tapi terutama tercermin pada para pendiri pondok pesantren, para pengasuhnya hingga pimpinan pondok pesantren,” demikian pesan Menag Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan sambutan pada Tasyakuran Setengah Abad Pondok Pesantren Pabelan, Sabtu (29/8), Muntilan, Jawa Tengah sebagaimana dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Menurut Menag, di pesantren, nilai keikhlasan merupakan tradisi para pendiri yang senantiasa selalu dijaga dan dirawat. Keikhlasan itu pula yang menjadikan pesantren tetap eksis, bahkan sejak ratusan tahun yang lalu. 

“Mari kita bersyukur karena jasa para pendahulu lah lembaga pendidikan pondok pesantren masih bisa eksis di bangsa ini,” ucap Menag. 

Hal sama, lanjut Menag, terjadi di Pesantren Pabelan. Karena keikhlasan para pengasuh dan pendiri pesantren ini juga Pabelan tetap eksis memberi kemanfaatan kepada umat hingga usianya yang ke-50 tahun. 

“Karena keikhlasan para pendiri maka  kita bisa menikmati Tasyakuran Setengah Abad Pondok Pesantren Pabelan,” ujar Menag.

Pondok pesantren Pabelan didirikan oleh alm. Kiai Hamam Zafar. Sejarah pernah mencatat bahwa pada masa1952 pondok pesantren Pabelan mengalami kevakuman. 

“Saya membaca dari catatan sejarah, bahwa Ponpes ini pernah mengalami masa vakum pada 1952. Saat itu memang dalam masa–masa yang sangat sulit. Setelah lebih dari 10 Tahun, atau tepatnya pada 1962, Kiai Hamam Zafar menghidupkan kembali pondok pesantren Pabelan,” jelas Menag.

Acara tasyakuran atas berdirinya pondok pesantren yang berusia 50 Tahun tersebut tidak hanya dihadiri oleh masyarakat saja. Tampak hadir pula beberapa pengasuh pondok pesantren besar, termasuk juga Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin. 

Menag menambahkan, kiprah Ponpes Pabelan dalam ikut menyiapkan generasi muda muslim di Indonesia tidak bisa dipungkiri. Untuk itu, sudah semestinya Negara memberikan apresiasi atas pencapaian pesantren ini. Pabelan terbukti berperan besar dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa,  serta menjaga ke Indoneasia-an  yang tetap memegang nilai agama.

“Nilai-nilai agama dijadikan sebagai perajut keberagaman, dalam bingkai NKRI. Dan itu mencerminkan betapa alkulturisasi tetap dijaga dan dirawat agar bisa berinovasi dan berkreasi untuk menciptakan hal-hal baru yang lebih kontekstual sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya,” terang Menag. Red: Mukafi Niam

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)