Kembangkan Dakwah, Pesantren Cinta Rasul Didik Dai Lokal dari NTT

Soe,
Untuk pertama kalinya, Pengasuh Pesantren Cinta Rasul (PPCR) Kab. Bogor mengunjungi wali santri di beberapa desa di Kota Kupang dan pedalaman Soe Kab. Timor Tengah Selatan (TTS), provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) . Selama 3 hari, dari  tanggal 7-9 September 2015, mereka menyambangi rumah-rumah wali santri di desa Noemuke, dusun Nokmofa dan Oehani di desa Kiufatu Kab. TTS. Kunjungan ini merupakan upaya untuk melihat langsung potensi santri yang akan menjadi dai lokal

Setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam dari Kupang ke Soe, ibukota Kab. TTS, ditambah 3 jam menuju pedalaman Desa Noemuke dengan sesekali melewati ladang-ladang peternakan sapi, melintasi hutan pohon asam berdebu dan sungai berbatu yang kering kerontang, tibalah di halaman masjid Nur Shomad Noemuke.

Mengejutkan? Ya. Tapi terus terang bukan karena jauhnya jarak dan terjalnya medan, atau karena kelelahan, melainkan karena ternyata  begitu papanya kondisi masyarakat di sana. Dari 500-an kepala keluarga, di mana 31 kk di antaranya adalah keluarga muslim, nyaris seperti tidak ada kesejahteraan. Manusia hidup bersama hewan ternak seperti sapi, kambing, ayam, bahkan anjing dan babi, dalam satu lokasi. Ladang yang tandus, karena “air sonde (tidak) mengalir sudah 2 tahun,” begitu kata mereka. Belum lagi rumahnya yang terbuat dari batang kayu seadanya dengan atap daun lontar dan dinding dari pelepahnya.

Listrik? Jangan tanya. Hanya ada satu generator untuk menerangi masjid selama 3-5 jam per hari, atau panel tenaga surya berukuran kecil seharga satu jutaan untuk mengisi baterai lampu-lampu emergensi di rumah-rumah “orang berada”.

Duh, Gusti Alloh. Ternyata di sebagian Indonesia tercinta ini kemiskinan masih begitu kental mendera terutama di pedalaman TTS seperti ini. “Desa ini salah satu pedalaman yang dilanda kelaparan pada Juli 2015 lalu,” papar Ustadz Nurulhadi, dai pembina desa itu.

Kemiskinan bahkan hampir merata di mana-mana di TTS. Sepanjang perjalanan terjal berbatu lanjutan dari Noemuke ke Nokmufe selama 2 jam dan diteruskan ke Oehani 1 jam lagi, yang tampak hanya rumah-rumah bulat dari pohon lontar,  penduduk papa yang berladang seadanya dengan menanam jagung atau memetik buah asam, hewan ternak sapi dan babi yang kotorannya tercecer di jalanan dan halaman rumah, kapela (gereja kecil) di sana-sini, atau sesekali ditemui masjid kecil nan sederhana. Yang menggembirakan, dan itulah yang menjadi kekayaan mereka, senyum dan keramahan mereka. “Neopah, amnafi. Selamat ko,” sapanya.

Kunjungan Pengasuh PPCR ini bukan tanpa sebab atau sekadar jalan-jalan berwisata. Sejak tahun 2011, pesantren yang terletak di Desa Cijujung Kec. Cibungbulang Kab. Bogor itu memang sudah mendatangkan santri-santri asal NTT. Dimulai dari 7 orang dan ditambah 13 orang yang dibawa serta sekarang oleh pengasuhnya, H. Abdul Basit Mahfuf beserta istri Hj. Hesti Aryani dan KH. Muhammad Mustofa alhafidz, kini santri asal NTT di pondok itu sudah berjumlah 61 orang. Mereka berasal dari Kab. TTS, Kab. Belu, Kab. Alor, dan Kota Kupang.

Alhamdulillah kami diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mendidik mereka, anak-anak dhuafa, yatim, dan muallaf. Dengan doa dan dukungan seluruh kaum muslimin, mudah-mudahan kami dapat menunaikan amanat ini dan membawa manfaat,” harap Abi, begitu H. Abdul Basit Mahfuf biasa dipanggil santrinya kepada .

Bagi Pesantren Cinta Rasul, kedatangan para santri asal NTT ini teramat penting bagi keberlangsungan dakwah di Bumi Timor. Atas anjuran Ust. Nurulhadi, dai asal Lamongan Jatim yang telah “babat alas” dan mukim di sana lebih dari dua puluh tahun, santri NTT itu memang akan “dicetak jadi dai lokal” yang wajib pulang kampung setamat belajar.

Selama mondok, ada tiga bekal ilmu yang disiapkan. Pertama, ilmu agama khas pondok salafiyah Nahdhiyah. Kedua, ilmu umum melalui jenjang sekolah formal hingga kuliah. Dan ketiga, pendidikan keterampilan hidup.

“Kami memang harus bekerja ekstra. Mereka bukan cuma harus berilmu dan berakhlak karimah tapi juga harus bisa ‘hidup’ di daerahnya dengan segala keterbatasan dan potensi alamnya,” papar Hj. Hesti, Ketua Yayasan Masjid Jami’ An-Nur, lembaga yang menaungi Pesantren Cinta Rasul.

Walhasil, beberapa program pun digulirkan. Tahun lalu, dengan bantuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Kementerian Agama melalui Program Pembinaan SMP Berbasis Pesantren, SMP IT Cinta Rasul mengembangkan keterampilan produksi tempe dan produk olahannya. Sebelumnya, peternakan ayam dan kambing, pertanian, serta perikanan sudah dirintis.

Rencananya, tahun 2015 ini, atas binaan seorang pengusaha sepatu bermerek akan dibuat bengkel sepatu, sandal, dompet, gesper, dan produk berbahan kulit lainnya. “Kami lihat di Soe banyak potensi penyamakan kulit yang belum termanfaatkan dengan baik. Dan mudah-mudahan itu dapat menjadi bekal hidup bagi santri NTT nantinya,” tambah Hj. Hesti, alumni FPMIPA IKIP Jakarta angkatan 1998 itu mengakhiri perbincangan dengan doa dan harapan. “Amin.” (Abi/Mukafi Niam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: