Ketika Anak-anak SD Kumandangkan Nasionalisme lewat Puisi

Tegal, Halaman SMP Ma’arif NU Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (31/10) siang itu ramai dipadati anak-anak berseragam Pramuka. Sebagian berpakaian dengan motif berbeda, warna-warni. Mereka duduk lesehan di serambi halaman sekolah, tapi kebanyakan menempati kursi yang tersedia dengan peneduh atap terpal biru.

Di hadapan mereka panggung berukuran 4 x 6 meter dengan latar belakang merah-putih bertuliskan “Gebyar Puisi Kebangsaan” dengan barisan kalimat tema berbunyi “Pemahaman dan Kesadaran Tentang  Budaya Litersi”. Anak-anak SD/MI itu datang dari beberapa sekolah di Kecamatan Dukuhwaru dengan didampingi guru pembimbing mereka guna mengikuti ajang Lomba Cipta dan Baca Puisi yang diselenggarakan Komite Sekolah setempat. Momen ini dikaitkan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2015.

Untuk penjurian, pihak SMP Ma’arif NU Dukuhwaru selaku penyelenggara mendatangkan praktisi sastra, Dramawan Kondang Apito Lahire dan penyair Julis Nur Hussein. Proses penilaiannya dilakukan sehari sebelumnya. Terdapat 28 puisi karya pelajar SD/MI, termasuk 6 puisi karya siswa-siswi SMP Ma’arif NU Dukuhwaru.

Suci Nur Khasanah, siswa kelas V SDN Blubuk 06, lewat puisinya ingin kemerdekaan lebih dari sekadar seremoni. //Wahai… kawan pemuda-pemudi bangsa/lantangkan suaramu dan teriakkan kemerdekaan/bukan saat upacara bendera saja/tetapi resapi di hati tentang arti kemerdekaan//

Atau bagaimana Naya Nur Aulia Azzahra, siswa kelas V MI Miftakhul Ulum Gumayun melihat fenomena pembakaran hutan belakangan ini. //Kabut asap membumbung tinggi di angkasa/langit biru berubah menjadi kelabu/lihatlah saudara-saudara kita di sana/sesak napas, menangis meratap pilu//

Dan coba simak ketegasan seorang Rizqi Fajar Prasetio, siswa kelas IV SDN Blubuk 05. //Kawan, bangkitlah demi Indonesia/bergeraklah untuk maju/berikan kebanggaan untuk para pahlawan/jadilah rakyat Indonesia yang rukun dan bersatu//

Terhadap puisi-puisi itu ketua tim Juri Apito Lahire berpendapat, “Konsep yang mereka munculkan rata-rata menarik, bagaimana cara mengungkapkan kecintaan mereka terhadap negeri ini menjadi sesuatu yang sublim. Ada kejujuran sekaligus tanggung jawab dipadukan dengan tema serta gaya bahasa,” terangnya di sela-sela penjurian.

Sementara Julis Nur Hussein penyair yang juga pengurus Dewan Kesenian Kabupaten Tegal menambahkan bahwa kegiatan semacam ini perlu terus dibudayakan terutama di tataran jenjang pendidikan sekolah dasar dan menengah pertama. Sebab, menurutnya, dari sanalah dasar kemandirian berkreasi seseorang dimulai.

“Ini langkah yang cerdas yang dilakukan SMP Ma’arif NU Dukuhwaru. Kami sangat butuh figur seperti Bu Aifi yang berani berinisiasi dengan kegiatan cipta dan baca puisi ini,” imbuh Julis sembari mengacungkan jempolnya.

Kepala SMP Ma’arif NU Dukuhwaru Aifi Zulfiyah mengungkapkan, kegiatan ini terselenggara atas keprihatinan dirinya terhadap budaya menulis dan membaca yang belakangan ini semakin dilupakan masyarakat. “Saya prihatin dengan kecanggihan teknologi sekarang ini yang dimanfaatkan secara kurang berimbang antara sisi manfaat dan mudaratnya,” tuturnya.
 
Hasil rekapitulasi nilai dewan juri menyebutkan, sebagai juara 1 puisi “Kabut Asap” (Naya Nur Aulia Azzahra, MI Miftakhul Ulum Gumayun), juara 2 “Semangat Pemuda-Pemudi Bangsa” (Suci Nur Khasanah, SDN Blubuk 06), Juara 3 “Perjuangan Untuk Maju” (Rizqi Fajar Prasetio, SDN Blubuk 05), Harapan 1 “Teruntuk Pemuda-Pemudi Indonesia” (Revi Mariska SDN Gumayun 2), Harapan 2 “Tanah Airku” (Fajar Novian KH, MI Miftakhul Ulum Gumayun), dan Harapan 3 “Ikrar Pemuda Indonesia” (Jasmine Lintang Aurelia, SDN Pedagangan 03). Para pemenang selain mendapatkan tropi juga uang pembinaan yang besarannya bervariasi. (Red: Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: