Ketua PCNU Nganjuk Ingatkan Sarjana Berjihad dengan Ilmu

Nganjuk, Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (Staida) Krempyang, Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menggelar wisuda untuk kedua kalinya, Selasa (26/5). Perguruan tinggi yang berlokasi di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in ini mewisuda 94 wisudawan.

“Sebanyak 56 wisudawan dari jurusan Tarbiyah dan 38 wisudawan jurusan Syari’ah,” kata ketua Staida M. Burhanuddin Ubaidillah.

Hadir di deretan tamu undangan adalah sekretaris Kopertais IV Surabaya M. Nuril Huda, direktur pascasarjana IAIN Tulungagung Dr. Asy’aril Muhajir dan forpimda kabupaten Nganjuk. Tampak hadir pula ketua PCNU Nganjuk KH. Hamam Ghozali, sekretaris H. Hasyim Afandi dan ketua PC Muslimat Hj. Sri Minarni.

Saat menyampaikan sambutan, KH. Hamam Ghozali menggarisbawahi bahwa nilai seorang sarjana terletak kepada sifat baik yang dimiliki. “Baik dari sisi lahir maupun batin, tidak cuma tampilannya saja,” ujarnya.

Kiai yang akrab disapa Gus Hamam ini berharap agar lulusan Staida yang diwisuda mampu memiliki semangat jihad dalam membangun masyakarat. “Jihad tidak berarti harus mengangkat senjata, tapi berkontribusi positif bagi pembangunan masyarakat melalui ilmu yang dimiliki dengan berdasarkan akhlaqul karimah,” ucapnya.

Pria yang juga ketua Yayasan Islam Al-Ghozali ini juga menjelaskan latar belakang pendirian Staida di lingkungan Pondok Krempyang. Berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, lanjutnya, harus dicarikan jawaban.

“Terlebih fenomena yang dihadapi masyarakat sekarang semakin kompleks, seperti wacana yang menyatakan bahwa wanita tidak perlu masa iddah, transaksi online, penafsiran al-Qur’an yang seenaknya sendiri dan sebagainya,” ujarnya.

Saat memberikan sambutan, sekretaris Kopertais IV M. Nuril Huda lebih banyak memotivasi para wisudawan. Prosesi wisuda, menurutnya, adalah momentum tepat untuk saling memahamkan antara pihak kampus dengan stakeholder. “Terutama dalam memaparkan visi misi dan keunggulan yang dimiliki,” ujarnya.

Alumni Pascasarjana Unesa ini menandaskan bahwa untuk menjadi perguruan tinggi yang mampu menghadapi tantangan globalisasi, Staida harus berbenah diri secara konsisten. Pembangunan citra lembaga (institutional branding) mutlak harus dilakukan.

“Itu dilakukan agar Staida dikenal dunia luar, tidak hanya di Nganjuk, Jawa Timur dan Indonesia, tapi kalau bisa sampai ke luar negeri,” katanya.

Sebagai contoh adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan Staida bernama Pikir. Meski baru setahun terbit, nama jurnal ini ternyata sudah dikenal dengan baik di lingkup Kementerian Agama RI dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta. “Saat saya menemui narasumber workshop untuk e-journal di Kemenag RI di Jakarta sana, yang ditanyakan malah jurnal Pikir, bukan kampus Staida. Nah, tugas ini yang menjadi tanggung jawab bersama agar nama kampus juga dikenal, tidak hanya nama jurnalnya saja,” imbuhnya.

Di samping itu, lanjutnya, sebuah kampus juga harus membangun personal branding. Hal ini terkait erat dengan kesiapan modal personal yang ada di dalam kampus. Terutama dari unsur dosen dan mahasiswa. “Alumni harus bangga sebagai lulusan Staida, itu adalah modal awal dari syarat kedua ini,” ucapnya.

Modal intelektual adalah hal pertama yang harus disiapkan alumni sebelum terjun ke masyarakat. Interaksi sosial yang baik dengan berbagai elemen masyarakat juga penting dilakukan. “Modal ketiga baru berbicara ketersediaan dana,” katanya.

Ditemui usai acara wisuda, ketua Staida M. Burhanuddin Ubaidillah menambahkan bahwa pada tahun akademik 2014/2015, banyak kemajuan yang telah diraih. Di tingkat mahasiswa, dari 373 mahasiswa yang menimba ilmu di Staida, terdapat 22 mahasiswa yang memperoleh beasiswa dari Pemprov Jawa Timur.

Kampus yang berdiri sejak 2009 ini memiliki dua program studi. Yaitu manajemen pendidikan Islam (MPI) dan hukum perdata Islam (AS). “Kualifikasi dosen yang mengabdi di sini sudah lulus jenjang S-2 semua, dengan rincian 16 dosen tetap dan 4 dosen tidak tetap,” ungkapnya.

Program ke depan, Staida mencanangkan peningkatan kualifikasi akademik dari para dosen. “Tahun kemarin sudah ada dua dosen Staida yang memperoleh beasiswa penuh dari Kemenag untuk melanjutkan S-3 di UIN Sunan Ampel Surabaya dan satu dosen memperoleh beasiswa serupa untuk menempuh S-2 di UIN Malang,” ujaarnya.

Kelebihan kampus ini adalah berlokasi di Pondok Krempyang, salah satu pesantren tertua dan terbesar di Nganjuk. “Para dosen di sini juga rata-rata masih muda, sehingga sangat membantu dalam mentransformasikan ilmu dan nilai yang dimiliki kepada para mahasiswa,” imbuhnya.

“Mohon doa restu dari semua pihak, tahun ini ada tujuh dosen Staida yang akan mengikuti seleksi beasiswa penuh dari Kemenag untuk jenjang S-3,” pungkasnya. (Mukani/Mahbib)

 

Foto: Prosesi wisuda Staida

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: