Ketua Sarekat Muslim Indonesia: Forum Lintas Agama Mesti Dievaluasi

Bandung,
Ketua Sarekat Muslim Indonesia (SMI) Choiril Anwar Rohili menilai saat ini jalinan solidaritas antar umat beragama dan antar golongan tidak boleh berhenti sebatas menjadi forum elitis. Ia menilai, gerakan radikalisme dalam agama di Indonesia sekalipun itu berada dalam koridor agama Islam, tetapi telah meluas menjadi problem kebangsaan dan kewargaan sehingga dibutuhkan semangat kebersamaan untuk menghadapinya.

“Saya berpandangan sudah saatnya revitalisasi, reorientasi dan pengubahan mindset jalinan gerakan lintas agama agar diubah karena realitas telah jauh mengalami perubahan berbading beberapa tahun lalu. Janganlah gerakan itu kaku dan dogmatis. Ini perubahan selama 15 tahun masa reformasi sudah begitu pesat. Kalau bisanya cuma pertemuan-pertemuan elitis mending jadi Forum Arisan Lintas Agama saja,” ujarnya dalam diskusi fokus grup “Menyikapi Radikalisme di Penghujung 2015,” di Jalan Lodaya Bandung, Rabu, 25 November 2015.

Pernyataan Choiril tersebut muncul selain dilatarbelakangi oleh situasi nasional di mana radikalisme semakin menjadi-jadi dalam bentuk aksi, juga melihat potensi bahaya yang lebih besar jika di beberapa waktu ke depan ISIS benar-benar kalah di Suriah lalu banyak alumni ISIS pulang ke Indonesia.

“Kepulangan mereka tentu akan lebih berbahaya dan kita mesti harus tanggap terhadap hal itu. Sekarang saja gerakan-gerakan ektremisme seperti Aliansi Nasional Anti Syiah, Front Pembela Islam dan lain sebagainya sudah cukup banyak merusak ruang publik kehidupan berbangsa. Apalagi ditambah ISIS yang kelewat esktrem. Jangankan pendeta atau pastur, kiai saja bisa dibantai,” tuturnya.

Evaluasi pada gerakan lintas agama menurut Choiril paling tidak harus dibuktikan dalam tindakan nyata dan bukan hanya dibicarakan dalam ruang-ruang diskursus. Kaum radikal menurutnya sangat agresif dalam memainkan media massa terutama online untuk menghasut dan melecehkan siapa saja yang dianggap musuh.

Miskin solidaritas

“Minggu lalu, teman-teman Pagar Nusa di Bandung melaporkan situs voa-islam.com ke Bareskrim karena fitnah keji terhadap Alm Gus Dur dan PBNU, juga ada penyebaran rasisme. Proses baru mulai berjalan. Tetapi Pagar Nusa harus susah payah berjalan sendiri dan hanya didukung oleh pernyataan setuju. Harusnya kalau memang sama-sama punya komitmen terhadap kebangsaan, aksi-aksi konstruktif melalui jalur hukum seperti itu harus didukung oleh mereka yang berada di lintas agama,” terangnya.

Dalam Pandangan Choiril, spirit Gus Dur dalam urusan ini mesti bukan sekadar diteladani dalam urusan pemikiran melainkan harus masuk dalam tindakan karena Gus Dur juga seorang aktivis. Dalam pandangannya, Gus Dur itu seorang tokoh lintas agama yang benar-benar mampu melampaui kepentingan golongannya, bahkan harus rela dianggap memihak golongan lain yang itu minoritas. Dulu Gus Dur pernah sempat kecewa karena kaum minoritas yang ia bela mati-matian itu ternyata kurang seimbang dalam menyambut semangat solidaritasnya. Gus Dur yang menurut Choiril sekarang ini warisan pemikiran dan semangatnya masih eksis dalam ruang publik politik kebangsaan masih berurusan musuh-musuh bangsa yaitu kaum radikal yang menyerang Gus Dur, menyerang PBNU dan bahkan menyerang etnik Cina dan pemeluk agama minoritas.

“Lagi-lagi, saya mendengar kabar ada kemiskinan solidaritas. Kalau teman-teman di NU ternyata hanya berjuang sendiri dengan semangat inklusivitas tetapi mereka tidak punya empati, sudah saatnya kita berpikir ulang dalam jaringan solidaritas ini. Daripada mayoritas harus terus menggalang dan ujung-ujungnya dianggap berkepentingan terhadap sesuatu, maka lebih baik kader-kader NU memakai model gerakan sendiri tanpa mereka. Harus bisa!,” pungkasnya. Red: Mukafi Niam

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: