Ketua Umum PBNU Hadiri Wisuda IV STAINU Jakarta

Jakarta, Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj berkesempatan menghadiri dan memberikan sambutan dalam acara Wisuda IV Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta, Selasa (29/9) di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta Timur.

Dalam sambutannya, Kang Said, sapaan akrabnya menegaskan kepada para wisudawan dan wisudawati, bahwa akhir masa studi di perguruan tinggi bukan akhir dari sebuah pencarian ilmu.

Kiai asal Kempek, Cirebon ini juga menyatakan, agenda Nahdlatul Ulama masih sangat banyak dalam upaya mewujudkan kemaslahatan umat di berbagai bidang kehidupan, bukan hanya bidang agama, tetapi sosial, budaya, ekonomi, kesehatan, terutama pendidikan, dan bidang-bidang penting lainnya.

“Saya melihat kesemua itu merupakan tantangan besar bagi para sarjana Nahdlatul Ulama agar setelah lulus segera berkiprah semaksimal mungkin dalam mewujudkan kemaslahatan di tengah masyarakat,” ujar Kang Said.

Kang Said juga menegaskan kembali tentang upaya PBNU untuk penetapan Hari Santri yang diusulkan tanggal 22 Oktober kepada Presiden Jokowi.  “Sebagian ormas Islam telah menyatakan dukungannya terkait penetapan Hari Santri ini,” ungkapnya.

Magister Islam Nusantara

Dalam kesempatan ini, Kang Said juga berharap kepada para lulusan Pascasarjana Program Magister Kajian Islam Nusantara pertama STAINU Jakarta agar terus aktif melakukan kajian dan pengembangan konsep Islam yang digagas oleh Nahdlatul Ulama ini.

Wisuda Ke-4 ini, STAINU Jakarta berhasil mencetak lulusan pertama Magister Islam Nusantara sebanyak 45 orang.

Ketua STAINU Jakarta, Syahrizal Syarif, PhD menegaskan, para Magister Humaniora (M.Hum) Islam Nusantara ini digembleng dengan sederet mata kuliah khas keislaman ala Nusantara yang lebih menekankan sikap inklusivitas. Banyak penelitian Tesis yang mengangkat fenomena khas keislaman Nusantara yang selama ini kurang terekspos dengan baik.

“Tesis-tesis Magister Humaniora Islam Nusantara STAINU Jakarta diharapkan menjadi saldo khazanah keilmuan Islam Nusantara. Terlebih tesis-tesis tersebut telah berhasil dipertahankan secara ilmiah,” paparnya. (Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: