Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila

Jombang, NU Online 
Jaringan Lintas Iman Nusantara menggelar “Silaturahmi dan Dialog Kultural” di food court Denala, Jombang, Jawa Timur. Temanya, “Meneguhkan Indonesia Sebagai Rumah Bersama”. Pada kesempatan itu, Ketua Umum Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Nia Sjarifudin mengingatkan negara melalui aparaturnya harus paham Pancasila.

“Apakah saat ini aparatur negara paham Pancasila atau tidak? Jika tidak ini menjadi persoalan,” ujar dia, Sabtu (1/8) malam terkait tumbuhnya fenomena perlawanan-perlawanan terhadap Bhineka Tunggal Ika.

Pada kegiatan dimoderatori Aan Anshori dari Gusdurian Jawa Timur itu, Nia menegaskan keberagaman ialah takdir Tuhan.

“Siapa berani melawan Tuhan yang telah menggariskan keberagaman? Cara kita berpikir dan berkelakuan itu juga harus arif. Agama tidak boleh mendominasi kepentingan publik, konstitusi kita menyebut setiap orang, apapun latar belakangnya. Tantangan bangsa Indonesia saat ini ialah kecerdasan kita harus lebih menang dari puritanisme,” katanya.

Sejumlah aktivis Nahdlatul Ulama (NU) di beberapa tempat di Indonesia menegaskan Indonesia masih memerlukan Pancasila yang merupakan bagian dari 4 (empat) konsensus kebangsaan sebagai landasan dan pedoman untuk meyatukan berbagai elemen di tanah air ini. 

Indonesia, ujar Wakil Ketua II PC Fatayat NU Waykanan Provinsi Lampung Ponita Dewi, terdiri dari 1.128 suku bangsa dan bahasa, ragam agama dan budaya, lebih kurang 17.508 pulau yang membentang dari 6,08 LU – 11,15 LS dan 94,45 BT – 141,05 BT.

Konsepsi tentang dasar negara Indonesia dirumuskan dengan merangkum lima prinsip utama (sila) yang menyatukan dan menjadi haluan ke-Indonesiaan, yang dikenal dengan “Pancasila”,  yang terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Karena itu, menjadi mengejutkan ketika masih ada kekerasan atas nama agama di Indonesia beberapa pekan lalu,” ujar Ponita yang beberapa hari lalu diminta menjadi moderator Riungan (kumpulan) Kebangsaan dihelat Gusdurian Lampung dan sejumlah pihak berpandangan sama mengenai kebangsaan dan kemanusiaan.

Riungan Kebangsaan merupakan sinergi dan energi cinta untuk bangsa dari Gusdurian Lampung, alumni BPUN Way Kanan 2015, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Pemuda Katolik, Gerakan Pemuda Ansor, Peradah, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu, Palang Merah Indonesia (PMI), Barisan Ansor Serbaguna (Banser), TP PKK dan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

Riungan Kebangsaan berisi donor darah dan diskusi kebangsaan membahas “Masih Perlukah Indonesia Dengan Pancasila?” dengan pembicara I Gede Klipz Darmaja dari Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Lampung, lalu Andreas Sugiman dari Pemuda Katolik Way Kanan, Ketua PC Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Supri Iswan. 

Dengan menjadi moderator dalam acara itu, katanya, berarti ikut aktif dalam mensosialisasikan 4 (empat) konsensus kebangsaan, salah satunya adalah Pancasila. 

“Selain mendapatkan ilmu, secara otomatis ikut memberikan kesimpulan kemudian menggali lagi Pancasila. Riungan Kebangsaan mengingatkan kembali lima sila yang menjadi ideologi negara, yang mana nilai-nilai Pancasila tersebut harus kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari karena tanpa kita sadari nilai-nilai Pancasila itu sudah mulai luntur,” papar Duta Genre (Generasi Berencana) Indonesia 2013 itu pula.

Adapun Presiden Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) HM Syaiful Bahri Anshori menegaskan,  4 (empat) pilar berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika harus disosialisasikan secara berkesinambungan.

“Sosialisasi empat Pilar Kebangsaan menjadi sangat penting dan urgen untuk selalu dilakukan secara sustainable, sistematis dan berkesinambungan sebagai refreshing dan reformating untuk menumbuh kembangkan kembali cita cita luhur para ‘founding father’ kita tentang konsepsi pendirian negara kita, bahwa kita adalah bangsa yang besar dengan berbagai perbedaan, keberagaman yang harus disyukuri dan diikat dengan nilai-nilai empat  pilar yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita,” ujar anggota DPR RI dari PKB itu. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)