Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Perdana STAINU Jakarta dan UNU Indonesia

Jakarta, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siroj menyampaikan kuliah umum perdana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia, Rabu (7/10) di lantai 8 Gedung PBNU Jakarta.

Di hadapan ratusan mahasiswa baru STAINU Jakarta dan UNU Indonesia, Kang Said, sapaan akrabnya menegaskan, peradaban Islam sejak zaman Nabi selalu menekankan inklusivitas atau keterbukaan terkait dengan perbedaan keyakinan. Warisan peradaban dalam Islam tidak hanya terkait dengan situs-situs, tetapi juga peradaban pemikiran melalui para ulama. 

Kiai asal Kempek Palimanan Cirebon ini menjelaskan lebih jauh, bahwa peradaban Islam menciptakan ulama-ulama yang dipercayai mempunyai taffaqahu fiddin yang benar, seperti ulama-ulama madzhab, Imam Ghazali, Imam al-Asy’ari, Imam al-Maturidi, dan lain-lain.

“Mereka mempunyai metodologi yang benar dalam menyusun produk-produk hukum agama. Tidak hanya merujuk pada nash Qur’an, tetapi juga hadis, akal atau rasio, ijma atau konsensus para ulama, qiyas, adat atau urf, dan lain-lain,” ujar Kang Said.

Guru Besar Tasawuf ini juga memberi penegasan kembali kepada para mahasiswa baru, bahwa sanad keilmuan di NU jelas sehingga mahasiswa juga harus mampu memahami jalur-jalur keilmuan Aswaja NU tersebut.

Acara kuliah umum ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa baru STAINU Jakarta dan UNU Indonesia tahun akademik 2015/2016, Ketua BP3TNU, Drs KH Mujib Qulyubi, MH serta jajaran pimpinan STAINU Jakarta dan UNU Indonesia.

Rincian mahasiswa baru tersebut yaitu, dari STAINU Jakarta Program Pascasarjana (S2) Islam Nusantara sebanyak 90 mahasiswa, Pendidikan Agama Islam (S1), 110 mahasiswa, Ahwalul Syakhsiyah (S1), 32 mahasiswa, dan Perabankan Syariah, 30 mahasiswa. Adapun mahasiswa UNU Indonesia sebanyak 125 mahasiswa baru. (Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: