KH Anwar Zahid Isi Pengajian di Daegu Korea

KOREA SELATAN – Jika akal bisa mengendalikan nafsu, manusia akan lebih hebat daripada malaikat. Tapi kalau akalnya dikalahkan sama nafsunya, justru nafsunya yang mengendalikan akalnya, maka manusia lebih rendah dari binatang.

Demikian disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Attarbiyah Islamiyah Assyafi’iyah Bojonegoro Jawa Timur KH Anwar Zahid saat menyampaikan taushiyah dihadapan sekitar 6000 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Korsel pada acara tabligh akbar di Daegu, Korea Selatan, Ahad (3/5).

Keterangan ini didapat dari Ketua PC GP Ansor Daegu Korea Selatan Sukaryadi, di Ansan, Korea Selatan, Senin (4/5) malam saat dihubungi NU Online dari Indonesia.

Kiai Anwar juga menjelaskan, bahwa binatang tidak punya akal, binatang tidak punya malu, hanya punya kemaluan seperti kambing yang tidak berpakaian di mana-mana tidak masalah. Tapi nakalnya ya begitu saja, kambing nakalnya merusak tanaman, kalau kucing mencuri pindang. Yakin, pinter sampeyan (anda) kalau masalah nakal-nakalan. Pernah dengar kambing jadi tersangka? Kucing ditangkap KPK?

“Jadi jika akal manusia sudah dikuasai nafsunya, maka jelas ia lebih rendah dari binatang,” tegasnya.Pada Tabligh Akbar dalam rangka Harlah ke-3 Mushola Al-Iman Yeongcheon bertema ‘Pererat Islamiyah, Tebarkan Dakwah: Sukseskan Pembangunan Masjid Agung Daegu’, jama’ah menghimpun dana 58 juta won lebih atau sekitar Rp 650 juta yang akan digunakan untuk pembangunan masjid agung Daegu.

“Sorban KH Anwar Zahid juga dilelang untuk pembangunan masjid, laku sekitar Rp 20 juta. Ada dua sorban dilelang jadi beliau menyumbang Rp 40 juta,” ujar Sukaryadi menjelaskan kegiatan lain terjadi dalam pengajian yang terselenggara atas dukungan Kedutaan Besar Republik Indonesia Korea Selatan, Forum Komunikasi Masyarakat Indonesia (FKMI) Daegu dan PCINU Korsel.

Sementara itu, Ketua PCINU Korea Selatan Yusuf Muhammad menambahkan, umat Islam di Daegu berharap memiliki masjid permanen. “Itu cita-citanya. Untuk mewujudkannya membutuhkan dana sekitar 800 juta won atau sekitar Rp8,5 milyar. Karena itu, untuk mempermudah penggalangan dana, rekan-rekan di sini mengadakan kegiatan seperti pengajian akbar, nada dan dakwah, silakbar (silaturahmi akbar), dan lain sebagainya,” papar Yusuf.

Pria kelahiran Pati, Jawa Tengah itu menambahkan, mayoritas masyarakat di Daegu memeluk agama atau keyakinan Bulgyo (Buddhisme). Namun demikian, mereka tidak mempermasalahkan keberadaan umat Islam dan rencana pembangunan masjid, asal tidak membuat gaduh atau menggangu mereka.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: