KH Sya’roni Ahmadi Terangkan Kisah Rasulullah Haulkan Sahabatnya

Jepara,
Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi menegaskan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mendukung tardisi haul yang dilaksanakan setiap tahun itu. Kiai Sya’roni lalu mengutip sebuah riwayat yang disebutkan di Syarah Naqil Balaghah halaman 399.

Demikian disampaikan Kiai Sya’roni dalam tahlil umum haul Ke-1 KH Mudloffar Fatkhurrohman di maqbarah Mbah Brungut desa Kriyan, kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Selasa (27/10) sore.

Sesuai penjelasan Imam Al-Waqidi dalam kitab itu, setahun sekali Nabi menziarahi 70 sahabat yang ikut serta dalam perang termasuk sahabat Hamzah. Dari kediaman ke maqbarah, jarak tempuhnya kira-kira 6 km. Juga saat itu belum ada kendaraan laiknya mobil yang ada hanya himar dan onta.

Saat memasuki makam kiai kharismatik asal Kudus itu menjelaskan, Nabi berdoa. “Assalamualaikum bima shabartum fani’ma uqbaddar,” ujar Kiai Sya’roni di hadapan ratusan jamaah.

Doa yang diucapkan kanjeng Nabi itu merupakan harapan ahli kubur menerima nikmat agung yakni ditempatkan Allah di taman surga.

Ia menambahkan orang yang meninggal jasadnya dimasukkan ke kuburan sedangkan nyawanya berada di alam kubur. Kiai yang terbilang murah senyum itu mengajak jamaah untuk membedakan alam kubur dan kuburan.

Kuburan dijelaskannya ialah alam dunia. Sementara alam kubur ialah alam yang berbeda. Meski alamnya berbeda dengan kita tetapi mereka yang ada di alam kubur mendengar kita.

Berkenaan dengan itu, ia menyontohkan, menjelang wafatnya istri Muhammad, Siti Khadijah Nabi ingin titip salam kepada 3 perempuan. Mendengar kabar itu Khadijah yang mengalami sakaratul maut di usia 65 tahun tidak lantas meninggal sebelum menerima penjelasan dari Nabi.

Kelak, sesuai keterangan Nabi ketiga perempuan yakni Siti Maryam, Siti Asiah dan Ummu Kulsum akan dinikahi Nabi. Dinikahinya ketiga perempuan tersebut lantaran mereka masih menyandang status “perawan”.

“Maryam dan Ummu Kulsum jelas masih perawan. Sedangkan Siti Asiah yang merupakan istri dari Firaun setiap kali berhubungan dengan dia sosok asiah diganti dengan kambing. Alhasil Asiah masih perawan,” imbuh kiai Sya’roni.

Setelah mengetahui ketiga perempuan tersebut akan menjadi maru (bahasa Sunda) yang arti perempuan lain yang akan menjadi istri, Khadijah pun meninggal dunia. Semua tentang alam kubur, di Al-Quran sebut kiai Sya’roni temaktub dalam Surat Tahrim.

Jika ada masyarakat awam yang menyatakan dinikahinya tiga perempuan itu Nabi dikatakan bejo, beruntung masih menurut kiai hal itu perlu ditampik. “Yang bejo bukan Nabi Muhammad tetapi ketiga perempuan tersebut,” paparnya meluruskan anggapan masyarakat.

Di akhir mauidhoh Kiai Sya’roni Ahmadi mengungkapkan cara “menolong” orang yang sudah berada di alam kubur. “Dengan membacakannya istighfar serta tahlil,” pungkasnya mengakhiri mauidloh hasanah. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: