KH Zainul Arifin, Penyeimbang Politik Soekarno

Jakarta, NU Online
Hari Santri 22 Oktober 2015, sepertinya kurang lengkap jika tidak menziarahi sejarah peran besar ulama dan santri yang ikut membangun negeri ini. Perjuangan santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari Hizbullah dan panglimanya, KH Zainul Arifin Pohan.

Sejarawan Zainul Milal Bizawie menjelaskan bahwa keberadaan tokoh NU tersebut memberikan keseimbangan politik bagi Presiden Soekarno. Seandainya ia tidak meninggal pada tahun 1963, mungkin tidak akan ada peristiwa G 30 S. Sejak meninggalnya, Soekarno seperti kehilangan satu sayapnya sehingga kelompok kiri cukup berpengaruh di sekelilingnya.

“Setelah KH Zainul Arifin meninggal ditembak, Presiden Soekarno kehilangan satu sayap, sehingga Soekarno banyak  dipengaruhi kelompok kiri. Tentu jika Zainul Arifin masih hidup, tidak akan ada cerita G30S di dalam sejarah Bangsa Indonesia.”

Hal itu disampaikan Zainul Milal dalam acara launching buku “KH. Zainul Arifin : Panglima Santri, Ikhlas Membangun Negeri” karya Ario Hilmi di panggung utama International Islamic Expo 2015, JCC (Jakarta Convention Center) Balai Sidang Senayan, Jakarta, 15 November 2015 Pukul 13.00-14.00. Acara ini terlaksana karena kerja sama dengan penerbit buku tersebut, Penerbit Pustaka Compass dan keluarga penulis.

Karna itu, kata Milal, inilah pentingnya napak tilas perjalanan Presiden Soekarno dan KH Zainul Arifin Pohan ke Arab Saudi, bagaimana Soekarno dan KH Zainul Arifin Pohan membangun kedekatan dengan pusat keislaman untuk membangun bangsa. Hal ini juga menunjukkan bahwa Soekarno memiliki relijiusitas dan perhatian yang cukup tinggi kepada agama Islam untuk membangun negeri ini.

Bagi KH Zainul Arifin Pohan, Arab Saudi adalah gurunya karena sejak usia muda, gurunya berasal dari Arab langsung di Barus. Di Barus sudah sejak lama menjadi daerah strategis bertaraf internasional, dan sejak abad pertama era Rasulullah telah ada penyebar Islam di sana. Hal ini berarti juga, Islam telah ada di bumi nusantara ini sejak awal perkembangan Islam, era Rasulullah. Yaitu terdapatnya seorang tokoh bernama Syekh Mahmud dan Syekh Rukuniddin pada 671, yang dimakamkan di daerah Barus. 

Ulasan sejarah tersebut juga diamini oleh penulis yang tidak lain adalah cucu dari Sang Panglima Santri sendiri, Ario Hilmi. Bahwa KH Zainul Arifin pernah mendampingi Presiden Soekarno melakukan kunjungan-kunjungan kenegaraan bersejarah sepanjang tahun 1956. Salah satunya adalah ketika berkunjung ke Uni Soviet, dimana Indonesia lewat upaya diplomasi tingkat tinggi berhasil membuat pemerintah komunis di Moskow membuka kembali sebuah masjid yang kiji dikenal dengan Masjid Biru sering kali diulas sebagai Masjid Soekarno.

Ario Hilmi dengan mengutip kakeknya “Here the Moslem religion resembles a lamp in whitch the light has almost died out and the oil has not been renewed (di sini agama Islam seperti lampu minyak hampir padam yang minyaknya belum diganti)”. Begitulah komentar Zainul Arifin ketika ditanya media AS tentang keadaan penduduk muslim di Uni Soviet.

Dibukanya kembali Masjid Biru sebagai pusat kegiatan umat muslim Uni Soviet bagaikan minyak baru penerang pelita Islam sampai sekarang.

Peluncuran buku  “Panglima Santri” pada hari terahir International Islamic Expo ini, juga dihadiri oleh Prof. Dr. Rusmin Tumanggor MA, Drs Abdul Karim Pohan, dan banyak keluarga bermarga Pohan yang lain. (Moh.Khoiri/Damar Samana/Abdullah Alawi)

<

div id=”_mcePaste” class=”mcePaste” style=”width: 1px;height: 1px;overflow: hidden”>

KH Zainul Arifin, Penyeimbang Politik Soekarno

Jakarta, NU Online

Hari Santri 22 Oktober 2015, sepertinya kurang lengkap jika tidak menziarahi sejarah peran besar ulama dan santri yang ikut membangun negeri ini. Perjuangan santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari Hizbullah dan panglimanya, KH Zainul Arifin Pohan.

 

Sejarawan Zainul Milal Bizawie menjelaskan bahwa keberadaan tokoh NU tersebut memberikan keseimbangan politik bagi Presiden Soekarno. Seandainya ia tidak meninggal pada tahun 1963, mungkin tidak akan ada peristiwa G 30 S. Sejak meninggalnya, Soekarno seperti kehilangan satu sayapnya sehingga kelompok kiri cukup berpengaruh di sekelilingnya.

 

Setelah KH Zainul Arifin meninggal ditembak, Presiden Soekarno kehilangan satu sayap, sehingga Soekarno banyak  dipengaruhi kelompok kiri. Tentu jika Zainul Arifin masih hidup, tidak akan ada cerita G30S di dalam sejarah Bangsa Indonesia.”

 

Hal itu disampaikan Zainul Milal dalam acara launching buku “KH. Zainul Arifin : Panglima Santri, Ikhlas Membangun Negeri” karya Ario Hilmi di panggung utama International Islamic Expo 2015, JCC (Jakarta Convention Center) Balai Sidang Senayan, Jakarta, 15 November 2015 Pukul 13.00-14.00. Acara ini terlaksana karena kerja sama dengan penerbit buku tersebut, Penerbit Pustaka Compass dan keluarga penulis.

 

Karna itu, kata Milal, inilah pentingnya napak tilas perjalanan Presiden Soekarno dan KH Zainul Arifin Pohan ke Arab Saudi, bagaimana Soekarno dan KH Zainul Arifin Pohan membangun kedekatan dengan pusat keislaman untuk membangun bangsa. Hal ini juga menunjukkan bahwa Soekarno memiliki relijiusitas dan perhatian yang cukup tinggi kepada agama Islam untuk membangun negeri ini.

 

Bagi KH Zainul Arifin Pohan, Arab Saudi adalah gurunya karena sejak usia muda, gurunya berasal dari Arab langsung di Barus. Di Barus sudah sejak lama menjadi daerah strategis bertaraf internasional, dan sejak abad pertama era Rasulullah telah ada penyebar Islam di sana. Hal ini berarti juga, Islam telah ada di bumi nusantara ini sejak awal perkembangan Islam, era Rasulullah. Yaitu terdapatnya seorang tokoh bernama Syekh Mahmud dan Syekh Rukuniddin pada 671, yang dimakamkan di daerah Barus.   

 

Ulasan sejarah tersebut juga diamini oleh penulis yang tidak lain adalah cucu dari Sang Panglima Santri sendiri, Ario Hilmi. Bahwa KH Zainul Arifin pernah mendampingi Presiden Soekarno melakukan kunjungan-kunjungan kenegaraan bersejarah sepanjang tahun 1956. Salah satunya adalah ketika berkunjung ke Uni Soviet, dimana Indonesia lewat upaya diplomasi tingkat tinggi berhasil membuat pemerintah komunis di Moskow membuka kembali sebuah masjid yang kiji dikenal dengan Masjid Biru sering kali diulas sebagai Masjid Soekarno.

Ario Hilmi dengan mengutip kakeknya “Here the Moslem religion resembles a lamp in whitch the light has almost died out and the oil has not been renewed (di sini agama Islam seperti lampu minyak hampir padam yang minyaknya belum diganti)”. Begitulah komentar Zainul Arifin ketika ditanya media AS tentang keadaan penduduk muslim di Uni Soviet.

Dibukanya kembali Masjid Biru sebagai pusat kegiatan umat muslim Uni Soviet bagaikan minyak baru penerang pelita Islam sampai sekarang.

 

Peluncuran buku  “Panglima Santri” pada hari terahir International Islamic Expo ini, juga dihadiri oleh Prof. Dr. Rusmin Tumanggor MA, Drs Abdul Karim Pohan, dan banyak keluarga bermarga Pohan yang lain. (Moh.Khoiri/Damar Samana/Abdullah Alawi)

 

 

 

s

 

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: