Kiai Masdar: Tragedi Rohingya Akibat Ketidakadilan Global

Jakarta, NU Online
Tragedi Rohingya adalah persoalan ketidakadilan. Semua negara akan terbuka jika mereka memiliki dollar yang banyak. Tapi faktanya justru menutup pintu rapat-rapat karena mereka tidak punya apa-apa. Ini adalah fenomena ketidakadilan global yang sangat menghinakan kemanusiaan. Terlepas dari persoalan etnik, agama, politik, dan konflik di negaranya. 

Demikian disampaikan oleh Rais Syuriyah PBNU, KH Masdar Farid Mas’udi dalam Diskusi Publik #SaveRohingya: Momentum Indonesia Menegakkan Kemanusiaan Global yang diselenggarakan di Kantor DPP PKB, Jakarta, Jum’at (22/5). 

“Saya kira semua yang ada di majelis ini mempunyai pandangan dan komitmen yang sama dalam menghadapi permasalahan yang mengemuka terkait pengungsi Rohingya ini, yakni kemanusiaan,” ujar Kiai Masdar.

Masdar menerangkan, sekiranya masyarakat Rohingya ini konglomerat, mereka akan disambut dengan karpet merah. Bukan hanya satu negara, bahkan banyak negara akan berebut menyajikan sambutan meriah untuk pengungsi Rohingya dan menawarkan kewarganegaraan. 

Akan tetapi faktanya mereka bukan kumpulan orang berduit, lanjutnya, bahkan bisa dikatakan bukan siapa-siapa. Karena mereka seperti itu (tidak bawa apa-apa kecuali badan dan nyawa) maka diperlakuan sebagaimana kita lihat di media. Perlakuan keji dan sadis selalu mampir ke mereka. 

“Sekali lagi, sesungguhnya mereka bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa sehingga memperoleh perlakuan begitu keji. Soal akibat konflik politik, beragama tertentu, dari negara tertentu, dari etnik tertentu, itu hanya bumbu pemanis berita,” tuturnya.

Sehingga ketika ada negara kedatangan mereka, imbuhnya, tentu akan dimaknai penambah beban. Sungguh fenomena ketidakadilan global yang melibatkan hampir semua negara sedang dipertontonkan kepada kita. 

Selain Kiai Masdar, hadir sebagai narasumber Andi Rochmanyanto (Kemenlu RI), Syaiful Bahri Anshori (Komisi I DPR Fraksi PKB), dan Nur Munir (moderator). Acara dibuka oleh Andi Muawiyah Ramli (Dewan Syura DPP PKB). (Kholilul Rohman/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: